KEMBALI KE KAMPUNG: Jambore Wilayah II BPAN Kalimantan Timur

Pemuda Adat – Proses demokrasi deliberatif (musyawarah mufakat) mengantarkan Muhammad Napis sebagai Ketua Pengurus Wilayah BPAN Kalimantan Timur untuk periode 2017 – 2020. Dia dan para anggota baru yang diangkat secara serempak mengikrarkan diri dengan mengucapkan Janji Pemuda Adat.

“Semoga kita selalu bersama-sama dalam menjalankan organisasi (BPAN Kaltim—red) ini dari awal sampai akhir kepengurusan,” ujar pemuda adat asal Paser Mayang itu sesaat setelah dia diberi waktu untuk menyampaikan pernyataan perdananya sebagai ketua baru.

Acara yang berlangsung di Rangan, Kecamatan Kuaro, Kab. Paser, Sabtu (11/12) berlangsung lancar. Jambore Wilayah ini sekaligus momentum untuk mengonsolidasi para pemuda adat dalam rangka menyambut Jambore Nasional III BPAN. Sebagaimana diputuskan dalam Jamnas II di Bogor (2015), Kalimantan Timur menjadi tuan rumah untuk Jamnas III.

Karena itu, salah satu agenda pada Jamwil ini adalah persiapan kepanitiaan Jamnas di tingkat lokal. Kepanitiaan pun dibentuk. Semua peserta Jamwil II ini tercatat sepenuhnya dalam susunan kepanitiaan. Bahkan masih bertambah lagi para pemuda adat di Kaltim yang pada saat Jamwil tidak dapat hadir.

Program kerja

Olvy Tumbelaka, Plt Ketua BPAN Kaltim, menjadi fasilitator dalam merumuskan Garis-garis Besar Program Kerja. Dalam metode lingkaran yang diadakan sejak awal Jamwil, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci untuk menggali program kerja yang sesuai dengan keinginan para pemuda adat Kaltim. Masing-masing peserta mengalir secara memutar menyampaikan pendapat masing-masing.

Setiap pendapat ditampung dan kemudian diajukan lewat musyawarah mufakat untuk memastikan program prioritas dan paling realistis untuk dikerjakan sama-sama selama tiga tahun ke depan.

Salah satu yang menarik dari pendiskusian ini adalah usul untuk mengelola lahan (berladang, berkebun). Keinginan para pemuda adat ini rupanya menarik dua peserta untuk meminjamkan tanahnya dikelola pengurus.

Zainul dan Robby menawarkan tanah mereka untuk dipinjampakai para pengurus pemuda adat Kaltim. Mereka bersedia memberikan tanah mereka untuk tujuan mendukung gerakan pemuda adat “kembali ke kampung”.

Berladang atau mengelola lahan bertujuan untuk mempelajari cara-cara bertani. Kedekatan emosional juga antara pemuda adat terhadap tanah semakin kuat. Di sisi lain, mengelola lahan juga menjadi penopang kemandirian ekonomi organisasi.

Selain mengelola lahan, program lain yang menarik sebagian besar dirangkum dalam tema umum: menelusuri jejak leluhur. Turunan dari program umum ini, di antaranya belajar Pendidikan kaderisasi, kemah pemuda adat, sempuri (dongeng), sekulo (menanam kembali) membangun sekolah adat, berbahasa adat, bepekat (pertemuan) bulanan, membuddayakan tanaman obat, membangn sanggar tari, festival budaya tahunan hingga aksi demonstrasi (turun ke jalan) tahunan dan protes lewat seni.

Jambore ini dihadiri perwakilan Pengurus Nasional BPAN Jakob Siringoringo, perwakilan Perempuan AMAN yang juga sekaligus jadi tuan rumah Yuri, Syukran Amin dan sebanyak 24 pemuda-pemudi adat yang hadir.

[Media BPAN]

 

Kisah Dua Sahabat Karib Beda Dunia

Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur

 

 

Di sebuah hutan dengan pepohonan yang rimbun dan suasana asri serta sejuk-segar ditambah aliran air sungai yang sangat jernih dan dingin, terdengar kicauan burung-burung sangat merdu sekali. Benar-benar suasana yang indah. Dalam hutan tersebut hidup berbagai jenis burung-burung. Sementara dalam sungai yang terdapat di hutan tersebut juga ada beberapa jenis ikan yang hidup di dalam aliran air yang jernih. Dalam suasana yang indah dan asri ini, terdapat sepasang sahabat yang sangat tak terpisahkan. Mereka mengerjakan berbagai hal selalu bergotong-royong dan bekerjasama dengan baik. Sahabat karib itu adalah Lele dan Lesio.

 

Kedua sahabat ini hidup berdampingan mengelola tanah di sekitar hutan sebagai sumber hidup mereka. Mereka hidup dengan mengandalkan hasil-hasil tanaman yang mereka tanam dan dari hutan maupun sungai serta lingkungan sekitarnya.

 

Suatu ketika, musim untuk menanam padi tiba. Ikan Lele dan burung Lesio bekerja bersama-sama dengan cara bergotong royong secara bergilir. Mereka bekerja dengan giat dan penuh sukacita hingga tak terasa waktu pun berlalu sampai pekerjaan mereka selesai dengan baik. Hati mereka pun merasa puas dan bahagia. Beberapa minggu kemudian padi di ladang mereka sudah mulai tumbuh dan subur, namun terdapat rumput yang tumbuh juga di sekitar padi.

 

Setelah beberapa bulan kemudian Si Lele dan Lesio sepakat untuk bergotong-royong meruput (membersihkan rumput di sekitar tanaman padi). Pertama, mereka memulai bergotong royong di sawah sang burung. Mereka bekerja dengan semangat sambil bercerita dan bercanda gurau hingga tak terasa matahari sudah tinggi menunjukkan tengah hari. Perut mereka pun mulai keroncongan.

 

Lesio lalu pamit pulang untuk menyiapkan makan siang. Sesampainya di rumah Lesio pun mulai menanak nasi dan merebus air. Ia dengan tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaan tersebut sampai-sampai lupa bahwa di rumahnya tidak ada lauk yang bisa disiapkan untuk makan siang.

 

“Wah, bagaimana ini tidak ada lauk. Aduh…,” gumam sang burung dengan perasaan sangat bingung. Sementera nasi sudah masak dan air sudah mendidih. Lesio memasang akal. Akhirnya tanpa berpikir panjang, sang burung pun mencelupkan kedua kakinya yang berwarna hitam ke dalam air yang mendidih sehingga kedua kakinya langsung berubah warna menjadi kuning.

 

Sang burung pun memanggil sahabatnya untuk beristirahat dan makan. Tidak lama kemudian, sang ikan sampai juga di pondok. Hidangan yang telah disediakan Lesio segera dilahap. Namun saat makan, Lele heran mengapa tidak ada lauk dan sambal. Ia hanya memakan kuah dan nasi. Pun begitu rasanya justru sangat enak.

 

“Heei…Lesio mengapa kuah ini enak rasanya?” tanya sang ikan terheran-heran kepada sahabatnya.

 

Sang burung pun menjawab dengan malu-malu, “He, he, he,… itu karena saya mencelupkan kedua kaki saya ke dalam kuah itu pada waktu airnya mendidih. Coba lihat kedua kaki saya, warnanya sudah berubah menjadi kuning.”

 

Si Lele mengangguk-angguk kepalanya tanda mengerti. Selesai makan, mereka beristirahat lagi sejenak sebelum meneruskan kerja, meruput.

 

Matahari pun telah lebih dekat ke peraduannya. Itu artinya, pekerjaan sudah tunai seharian. Akhirnya Si Lele pamit pulang. Berikutnya giliran sang burung yang akan membantu sang ikan. Mereka pun berjanji untuk bergotong royong di sawahnya Si Lele.

Hari yang ditentukan pun tiba. Sang burung, Lesio, terbang ke sawah sang ikan. Keduanya mulai meruput bersama-sama dengan semangat. Tanpa terasa cahaya sang surya tegak lurus dengan bumi. Pertanda tengah hari dan saatnya mempersiapkan makan siang.

 

Saat itulah Si Lele pamitan kepada sang burung pulang duluan untuk memasak. Setibanya di pondok, Lele mulai menanak nasi dan merebus air. Sang ikan merencanakan hidangan yang nikmat seperti telah dia rasakan sebelumnya di pondok sang burung. Niat baiknya tersebut selain bentuk service, juga sebagai balas budi atas pelayanan Lesio, sang burung.

 

Lele berkata dalam hatinya, ”Si Lesio merendam kakinya ke dalam air mendidih dan kuahnya terasa sangat lezat dan enak. Saya juga akan mencelupkan ekor ke dalam air ini. Pasti rasanya tidak kalah enaknya seperti masakan Lesio dan dia pasti suka.”

 

Tanpa berpikir panjang sang ikan pun mencelupkan ekornya ke dalam air mendidih. Bukan seperti sahabatnya, nasib Lele sungguh malang. Saat sang ikan hendak mencelupkan ekornya, ia pun tercebur ke dalam air panas. Sahabat baik Lesio tidak bisa menahan hanya bagian ekor yang tenggelam di air mendidih, karena badannya yang licin. Tak terelakkan lagi karena tak ada pertolongan, akhirnya sang ikan pun mati.

 

Sahabat Lele, sang burung di kebun sudah menunggu  panggilan untuk makan, tapi tak jua kunjung datang. Melihat matahari sudah menunjukkan lebih dari tengah hari dan perutnya pun terasa sangat lapar dan keroncongan bagai alunan suara musik gendang Jaipong, Lesio pun memutuskan untuk menyusul sahabatnya.

 

Setibanya di pondok suasana sangat sunyi sekali.

 

“Ada apa ya, kok sunyi sekali,” gumam sang burung perlahan.

 

Merasa penasaran, sang burung terus saja masuk ke pondok dan tidak mendapatkan sahabatnya Si Lele. Ia pun memanggil: “Lele…apa kamu ada di pondok?”

 

Sepi. Hampa. Tidak ada jawaban dari sahabatnya. Sang burung terus berjalan ke dapur lalu ia melihat nasi telah terhidang, tapi sang ikan tidak juga kelihatan batang hidungnya.

 

Tetapi di atas tungku terjerang sepanci air. Burung pun segera menelisik ke dalam panci tersebut. Alangkah terkejutnya sang burung saat menyaksikan isi di dalam panci tersebut ternyata adalah sahabatnya Si Lele yang telah mati dan masak oleh panasnya air mendidih.

 

Lesio mengangkat panci tersebut sambil berkata, “Wahai sahabatku, nasibmu sungguh malang. Niat hati memberi yang terbaik, tapi nasib berkata lain.”

 

Burung pun langsung terbang ke dalam hutan sambil bernyanyi, ”Ajutn mate asenk da’at, pepuluq uli lati kinas ilu danum.” Artinya “Teman mati, hati bersedih. Burung tempatnya di hutan dan di pohon, sementara ikan tempatnya di dalam air.”

 

Burung terus terbang namun hatinya sangat sedih ditinggal sang sahabat. Ia pun terbang terus semakin jauh ke dalam hutan.

 

Itulah kisah mengapa burung dan ikan tidak bersahabat dan kaki burung Lesio yang berubah warna menjadi kuning hingga sekarang.

 

 

 

Pipi Supeni