Tugas Penelitian, Pesan Para Leluhur

oleh Jakob Siringoringo

Leluhur masyarakat adat di nusantara meninggalkan sejumlah tugas kepada generasinya. Salah satunya adalah penelitian. Loh kok?

Leluhur yang hidup jauh pada ratusan tahun yang lalu dalam kehidupan sosial politiknya selalu berkarya. Karya-karya yang mereka ciptakan bisa dilihat dalam beberapa wujud, salah satunya adalah bangunan. Bagaimana sebuah rumah dibangun dengan kecakapan teknik yang memiliki rahasia dalam pembuatannya. Rahasia dalam arti berbalut ritual atau tradisi kultus budaya yang menjadi ekspresi mereka dalam berienteraksi dengan alam.

Masyarakat adat Batak, umpamanya, menciptakan rumah adat yang dikenal Ruma Batak atau Jabu Bolon. Pada Jabu Bolon terdapat filosofi yang melekat pada berbagai ornamennya yang dianggap mistis. Selama ini jarang dibicarakan atau dipertanyakan sebab telah dianggap kurang penting, khususnya dalam zaman yang mendahulukan kepentingan ekonomis ini. Ada beberapa ornamen yang bisa dilihat melekat pada Ruma Batak dan setiap ornamen tersebut memiliki akar atau pangkal ide dalam penciptaannya yang bersumber dari keadaan alam sekitar. Dengan kata lain, masyarakat adat Batak pada dasarnya adalah materialis. Berikut akan kita lihat beberapa di antaranya.

Batahan atau Pasak penyangga dinding. Batahan yang berukuran sangat kecil jika dibandingkan dengan yang diembannya dalam kesempatan ini saya jadikan sebagai ornamen pertama yang perlu kita ketahui dari Ruma Batak. Pasak kecil tersebut berada di antara dinding yang mereng, namun di sisi dalamnya diapit pada dinding miring dengan dinding lantai yang berfungsi sebagai kancing atau pengunci dinding miring yang juga menyangga atap sehingga tidak ambruk. Perlu diketahui bahwa atap Ruma Batak yang berbentuk kerucut itu menjulang tinggi seakan menyembah langit. Dengan kayu-kayu panjang dan banyak yang membentuk kerucut tentu memiliki berat yang tidak tanggung-tanggung. Beban inilah yang ditanggung dinding yang miring tadi. Sama sekali tidak rubuh atau goyang apalagi ringsek.

Fungsi batahan yang menjadi pengunci beban tadi sangatlah merupakan sebuah kekuatan rahasia yang jika diyakini sekilas dari sudut pandang rohani pasti dianggap mengandung kekuatan mistis. Daya mistis yang tak terlihat itu bahkan bisa menjadi pembenaran yang terus dijaga dan kemudian pandangan bergeser menjadi aneh atau negatif seiring datangnya konsep keyakinan dari luar, khususnya Timur Tengah yang sensitif terhadap upacara, ritual atau tradisi yang bersanding dengan alam—dalam praktiknya di bumi nusantara.

Karena itu pandangan ini mencoba memberi penjelasan tentang pasak yang memang memiliki kekuatan mistis tak terkira atau hampir tidak masuk akal itu. Pasak tersebut ialah kunci yang memang jadi perkakas terakhir dari susunan rangka yang telah dibentuk sedemikian rupa membentuk ciptaan yang berfungsi maksimal dan diperuntukkan pada usia yang melebihi 100 tahun. Perkiraan saya bahwa sebelum menemukan rumus yang tepat saat membentuk kerangka dinding yang menjunjung atap itu, leluhur masyarakat adat Batak pasti telah mengalami percobaan yang berulang-ulang. Dengan demikian, kreasi ini memang didasarkan pada perhitungan yang matang dan akurat. Bagi saya, kreasi ini dapat dijelaskan demikian. Tentu saja untuk menjangkau keterangan lebih akurat dan meyakinkan, ini bisa dirujuk pada para arsitek yang pernah melakukan penelitian atau lebih jauh yakni yang fokus menelitinya secara saksama dan dalam waktu yang telah teruji.

Berikutnya ada yang disebut dengan singasinga. Nama singa tentu bukan sesuatu yang asing kita dengar. Singa telah sangat lumrah dalam pengenalan kita akan nama-nama binatang. Singasinga jelas berbeda dengan singa yang dalam bahasa Inggris disebut lion. Untuk urusan nama ini tidak kurang hebatnya perdebatan di antara orang-orang Batak yang memang menyangsikan istilah ini sebagai nama yang ada tersendiri dalam keseharian masyarakat adat Batak. Tentu penjelasan bukan tidak ada dari pakar terkait perdebatan khususnya yang meragukan adanya nama ini dalam kosa kata Batak. Pakar filolog asal Jerman, Uli Kozok misalnya memberikan uraian mengenai istilah singasinga ini. Sebab tidak hanya singasinga yang menjadi ornamen dalam Ruma Batak yang menjadi perdebatan bagi banyak orang Batak khususnya di media sosial dewasa ini. Singasinga juga menjadi persoalan sebab ia identik dengan sosok raja yang sudah dikenal luas bahkan dikenal pula sebagai pahlawan nasional: Sisingamangaraja XII.

Tampilan singasinga dalam wajah Ruma Batak memang terlihat cukup aneh sebab wajahnya yang memang ditonjolkan ke depan dilengkapi dengan warna khas Batak (merah, putih, hitam). Bagi masyarakat Batak dewasa ini, khususnya yang sudah mengenal agama samawi, simbol itu juga terasa magis. Dan satu lagi kembali ke persoalan penamaan tadi, bahwa singasinga ini memang sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan singa sesungguhnya seperti binatang yang banyak terdapat di Afrika itu.

Singasinga ini pada dasarnya merupakan penjaga rumah yang memang terlihat diam dan seolah tidak bernafas. Singasinga ini sendiri merupakan jelmaan simbol dari belalang yang memang sifatnya kerap mengelabui pemahaman. Mengelabui, yakni saat kita melihat seekor belalang terdiam pada satu wadah, kita kerap akan mengiranya mati dan dengan semudahnya kita bisa menangkapnya. Khayalan itu ternyata kerap menjadi imajinasi yang menjengkelkan, sebab belalang tiba-tiba akan melompat sewaktu kita hendak menyentuhnya karena kita anggap mati. Memang binatang berwarna hijau ini kalau terdiam benar-benar tak bergerak.

Di sisi lain, ini yang paling penting, bahwa singasinga menyimbolkan kemandirian pemilik rumah. Analogi dalam bahasa Batak menerangkan: metmet pe sihapor dijujung do uluna (sekalipun badan belalang kecil, kepalanya tetap dijunjung). Analogi ini menjelaskan bahwa sekalipun kondisi dan status sosial pemilik rumah tidak terlalu beruntung, namun harus selalu tegar dan mampu untuk menjaga integritas dan reputasinya (R. B. Marpaung dalam Nilai Filosofi Rumah Adat Batak). Filosofi inilah yang diterapkan pada singasinga dalam assesoris Ruma Batak.

Sebetulnya setiap ornamen dalam Ruma Batak memiliki penjelasannya tersendiri. Semuanya pula bersumber dari materi-materi yang terdapat di alam sekitarnya. Gorga atau seni ukir Batak, misalnya bersumber dari pohon dan tumbuhan yang terdapat di alam sekeliling. Pohon dimaksud yaitu Harihara atau sering diucapkan Hariara. Pohon ini bahkan memiliki filosofi tersendiri yang memiliki penjelasan panjang. Jadi tidak seperti sekarang ini, Hariara dianggap keramat dan malah menakutkan atau terlebih lagi bertentangan dengan keyakinan yang sudah dianut saat ini. Demikian juga tumbuhan yang menjadi inspirasi lekukan dalam gorga. Salah satu yang paling umum adalah bunga pakis yang melekuk di ujungnya. Dalam bahasa Batak disebut silinduang ni pahu. Tumbuhan ini menjelaskan bahwa motif tersebut menjadi perlambang betapa indah dan jauhnya pencarian perjalanan hidup (tentatif). Dan setiap gorga, uniknya, tidak pernah memiliki arah maupun jenjang yang sama.

Berbicara mengenai gorga ini, tim dari Bandung Fe Institute memperoleh pola-pola matematis. Ornamentasi ini menurut mereka bersifat fraktal: geometri kontemporer (Jejak Matematika dalam Ukiran Gorga Batak). Pola yang mereka kembangkan ke komputer ini menunjukkan bahwa perhitungan terhadap pola ini benar-benar berakar kuat sehingga ia terbentuk tidak sembarangan. Karena itulah motif gorga tidak menciptakan efek negatif atau selalu mengasumsikan wujud mistis yang kerap dianggap tidak lagi bersesuaian dengan kehidupan masyarakat modern. Padahal, gorga itu sendiri adalah karya yang didasarkan pada logika matematika yang memang rumit, bukan mistis semata sehingga dinilai menakutkan. Sesungguhnya penelusuran yang tak kuat atau bahkan tak ada terhadap ornamen inilah yang menutup akses penjelasan yang sebetulnya menjadi rahasia dari karya yang sangat indah ini. Dengan kata lain, gorga adalah karya tangan yang didapatkan melalui pendekatan logika atau matematis, bukan atas ilham yang turun dari wujud tak terlihat.

Di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat adat Khonjo di Sinjai, ada sebuah rahasia atas ketahanan bangunan rumah adat mereka. Konon cerita magis yang muncul menjelaskan bahwa pohon yang ditebang dari hutan untuk membuat rumah adat terlebih dahulu diritualkan. Tujuannya tentu agar kayu yang dipergunakan untuk membuat rumah adat tersebut kebal terhadap segala cuaca, sehingga tahan lama hingga beratus tahun.

Adapun penjelasan dari ritual tersebut adalah bahwa pohon yang ditebang bakal jadi material bangunan tersebut terlebih dahulu diendapkan di kebun tembakau. Jadi kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa itu dibiarkan siang dan malam di tengah-tengah tembakau. Rahasianya ternyata adalah air tembakau yang berjatuhan kepada kayu tadilah yang menyebabkan kayu tersebut tahan lama. Rupanya air tembakau tersebut sangat ampuh untuk menolak segala macam binatang penghancur kayu juga terhadap segala macam cuaca yang silih berganti. Dengan demikian, resep ini menjadi penjelasan yang diterapkan dalam ritual yang telah disepakati dan menjadi tradisi masyarakat setempat.

Dengan kata lain, bahwa rahasia ketahanan kayu yang menjadi material rumah adat Khonjo tidak terutama pada aspek ritual yang memang diciptakan. Sesungguhnya penjelasan logis dengan memanfaatkan air tembakau tadi adalah rahasia yang mengantarkan kepastian bahwa kayu tidak lapuk. Penemuan inilah yang menjadi rahasia masyarakat adat Khonjo dalam menjaga ketahanan kayu mereka. Hasilnya jelas: rumah adat mereka bertahan ratusan tahun.

Sesungguhnya banyak lagi pengetahuan masyarakat adat yang bisa didaftar dan dibahas satu per satu yang untuk tulisan singkat ini cukup dulu beberapa contoh yang sudah disebutkan. Pada intinya maksud dari penulisan ini hendak memberitahukan bahwa setiap kekayaan tradisi masyarakat adat di nusantara memiliki penjelasan logis yang kerap selama ini dinafikan. Akibatnya penelusuran atau mencari tahu ilmu itu sendiri terabaikan. Masyarakat beragama (samawi) saat ini telah lebih mengedepankan peribadatan yang menjunjung langit, namun abai terhadap lingkungan sekitar. Adapun doktrin untuk tidak menduakan Sang Pencipta dimaknai secara terpaku dan tidak bisa dicabut apalagi digugat.

Akibatnya jelas masyarakat adat yang telah memeluk agama samawi tadi benar-benar memunggungi identitas awalnya. Mereka bertolak dari kebudayaan leluhur yang telah membuat mereka ada atau memberi nafas. Mereka memutus rantai keterkaitannya dengan leluhurnya. Dengan negasi ini benar-benarlah alam ditiadakan dari pengamatan atau perhatian, sebab dianggap telah bertentangan dengan asumsi yang ditanamkan secara mendalam oleh agama samawi. Padahal mereka hidup di alam. Kesadaran mereka semakin lama semakin memudar. Tak heran pola pikirnya juga mengikuti pola pikir kebudayaan kapitalis yang dekat dengan sifat eksploitasi. Jiwa ekonomis yang pula tertanam bersamaan dengan paham eksploitatif tak terhindarkan menjadi corak budaya masyarakat sekarang. Inilah realita yang menyebabkan ruginya masyarakat adat itu sendiri, sebab mereka telah menegasi identitasnya sendiri yang dinilai berbalik 180 derajat dengan iman samawinya.

Betapa kaya dan beruntungnya masyarakat adat sesungguhnya jika tidak mudah meninggalkan kebudayaan atau identitasnya sendiri. Namun demikian, tantangannya sekarang ini tidak lagi mempertentangkan masuk surga atau neraka. Leluhur masyarakat adat yang arif dan bijaksana tidak mengedepankan wacana abstrak itu, melainkan telah dengan mantap pula meninggalkan jejak peradaban mahakarya yang patut kita lestarikan. Tugas kita juga tidak hanya melestarikan, namun meneliti sehingga pengetahuan mereka terus berlangsung bahkan semakin ditingkatkan. Inilah yang selama ini tidak kita sadari. Diskusi ini mencoba menarik kesimpulan bahwa tugas kita saat ini adalah meneliti pengetahuan yang telah dimulai dan dicipta leluhur. Bukan malah menegasi atau tidak mempedulikannya. [ ]

 

BPAN Talang Mamak, Bergerak Meninggalkan Alasan Tak Produktif

Generasi muda adalah generasi emas yang memiliki sejuta bakat dan kemampuan. Selain kemampuan, terlebih lagi, memiliki semangat yang berkobar sebagaimana darahnya masih berada di fase didihnya. Penduduk di  Indonesia yang 250 juta jiwa itu sebagian besar adalah generasi muda. Bahkan dewasa ini Indonesia mengalami modus demografi.

Indonesia sebagai negara kepulauan, di tengah ketidakjelasan pemimpinnya, beruntung ada Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Pemuda dalam masyarakat adat yang tergabung dalam AMAN merupakan satu faktor penting dalam pergerakannya memperoleh perlindungan dan pengakuan hak-hak masyarakat adat.

Sebagai masyarakat adat yang memiliki kesamaan dalam perjuangan dan pergerakannya, maka kelompok mudanya juga turut dipersatukan dalam prinsip senasib sepenanggungan. Khusus kaum muda yang memiliki caranya sendiri dalam berekspresi ini kemudian dipersatukan dalam satu wadah yang disebut Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN). Dengan demikian, para pemuda ini menamakan diri sebagai pemuda adat.

Kini pemuda adat yang tergabung dalam wadah BPAN sudah tersebar di tujuh region di Indonesia. Ketujuh region dimaksud antara lain Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua. Salah satu yang terdapat di region Sumatera adalah Indragiri Hulu, Riau.

Bertanya dan Belajar Bersama

BPAN Indragiri Hulu atau yang akrab dikenal Talang Mamak dideklarasikan pada 27 Maret 2013. Sejak dideklarasikan, pemuda-pemuda adat Talang Mamak sangat antusias dalam mengurus kampung. Meskipun kerja-kerja mengurus wilayah adat seperti ini sudah jarang dilakukan oleh generasi muda sekarang; dan barangkali ini yang membedakan pemuda adat di Talang Mamak dan pemuda adat di wilayah lain.

Kaum muda kebanyakan lebih suka pergi ke kota. Kaum muda yang dimaksud di sini terutama yang berasal dari kampung atau yang BPAN sebut sebagai pemuda adat. Mereka terbius kehidupan urban yang memang jauh dari kebiasaan di kampungnya. Inilah kecenderungan orang muda dewasa ini sebagai efek dari pemikiran bahwa kesuksesan lebih masuk akal didapat di kota. Sebelumnya bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kehidupan kota lebih menjanjikan daripada kehidupan di kampung. Hal ini ditambah lagi dengan anggapan bahwa masyarakat yang tinggal di kampung dianggap sebagai orang terbelakang, ketinggalan zaman, udik, dan sebagainya.

Kenyataan umum ini berbanding terbalik dengan pemuda adat Talang Mamak. Pemuda adat di Riau ini justru bangga dengan kampungnya. Mereka melangkah perlahan tetapi pasti, memiliki semangat untuk menjaga dan mengurus wilayah adat/kampungnya. Tentu saja satu dua orang ada yang tidak sejalan dengan mereka dengan menganggap bahwa kerja-kerja itu tidak mendatangkan hasil/materi bahkan merugi. Namun, pemuda adat wilayah Talang Mamak yang dari hari ke hari bertambah banyak justru semakin kuat dan berenergi mengurus wilayah adatnya.

Semangat yang luar biasa ini terwujud dari kerja-kerja sehari-hari mereka dalam menggali jejak leluhur. Mereka kini bergegas menggali pengetahuan tradisional yang secara umum berkaitan atau mendukung kehidupan alam dan kemanusiaan. Dengan antusias, para pemuda adat terus menggali sejarah asal-usul, wilayah adat dan segala pengetahuan yang bertautan atau berkelindan satu sama lain dalam kehidupan sosial masyarakat adat Talang Mamak.

Mereka bertanya ke sana kemari, misalnya kepada tetua adat. Selain itu mereka juga melakukan kegiatan bersama, misalnya, berkemah di hutan dan melalui kemah ini diharapkan mereka semakin dekat dengan alam dan leluhur. Karena itu, mereka semakin mendekati wilayah adatnya, adat-istiadatnya atau budayanya dan alamnya yang merupakan asal-usul alias jati dirinya sendiri.

Kerja-kerja ini menjadi bagian dari kesadaran pemuda adat untuk menjaga dan mempertahankan wilayah adat mereka. Hilangnya tanah—sebagaimana terjadi di wilayah lain—yang disebabkan oleh perusahaan dan atau klaim hutan negara oleh negara, membuat kaum muda adat ini semakin menyadari kepemilikan atau kedaulatan atas wilayah adat dan segala isinya.

Selain bertanya mengenai sejarah kampung dan berkemah, mereka juga sudah melakukan penanaman pohon yang melibatkan masyarakat, termasuk anak-anak sekolah. Mereka juga perlahan-lahan melakukan pendokumentasian atas kerja-kerja mereka, misalnya saat menggali sejarah asal-usul. Mereka menuliskannya dan kemudian mengambil foto-foto terkait.

Tak berhenti sampai di situ, perlahan-lahan mereka juga mempelajari seni budaya masyarakat Talang Mamak. Sebagai kaum muda, tentu saja seni budaya, misalnya musik, tari, silat, permainan tradisional dan seterusnya sangat dekat dan cocok. Sebagai pemuda adat yang bangga berbudaya, pemuda adat Talang Mamak sangat senang mengurus wilayah adat. Sebagaimana anak muda, kerja-kerja yang dilakukan pun sangat sederhana, yakni kreatif, attraktif, happy dan fun. 

Dalam kenyataannya, di atas semua itu, pemuda adat Talang Mamak memahami wadah BPAN adalah sebagai sesuatu yang sangat penting dan tepat. Bagi mereka, BPAN adalah wadah bersama dalam menyikapi kesamaan pengalaman dengan pemuda-pemuda adat lain se-nusantara. Inilah kerja-kerja semangat, bahagia dan kreatif yang dilakukan dengan senang hati dan mengalir bagai sungai. Juga didukung oleh para tetua adat yang memahami kegiatan-kegiatan di wilayah adat yang sarat kearifan ini.

Catatan Kecil

Pengalaman singkat dan sederhana dari Talang Mamak ini, betapa pun kecilnya, sangat berharga. Karena itulah sebuah catatan kecil dari daratan tengah Pulau Sumatera ini boleh dijadikan sebagai model atau pemicu bagi wilayah lain. Semangat membara menunjukkan kesungguhan dan keseriusan pemuda adat Talang Mamak. Tidak ada yang istimewa dari satu wilayah ke wilayah lain, namun semangat dan kerja keraslah yang memberikan perbedaan kemajuan dalam perjalanannya.

Di antara BPAN wilayah yang sudah ada di tujuh region, Talang Mamak hanyalah salah satu yang bisa kita lihat bergerak mengurus wilayah adat dengan semangat dan kerja nyata yang tidak diperumit oleh wacana dan pemikiran. Mereka yang berprinsip untuk menyelamatkan wilayah adat dari kemungkinan dihancurkan kebijakan kehutanan atau kapitalis pemangku kepentingan/keuntungan, bangkit dan bergerak tanpa banyak teori maupun alasan. Inilah sikap dan praktik yang muncul dari pemuda adat Talang Mamak. Dengan demikian, pemuda adat sudah selalu siap: bangkit, bersatu dan bergerak. Maju dan berekspresi.

 

 

[Jakob Siringoringo]

Harus Bangga Menjadi Orang Kampung

Harus Bangga Menjadi Orang Kampung, itulah judul tulisan saya hari ini (9/5/2016). Saya dilahirkan dan dibesarkan di kampung. Bagi saya jika mempunyai kampung sebenarnya kita mampu mengenal identitas, mengenal asal usul dan mengenal nilai kehidupan sosial yang ada di sekitar.

Sangat terasa kalau kita berada di kampung. Hidup jadi aman, damai dan sangat dekat dengan sesama saudara, keluarga dan alam kita. Kita tidak merasakan kelaparan, melainkan hidup damai. Sebab leluhur telah menyiapkan kehidupan yang terbaik bagi kita. 

Bicara soal kampung, yang menjadi kategori kampung yaitu memiliki wilayah yang dijaga secara bersama, mempunyai pemukiman warga masyarakat, mempunyai  sejarah asal-usul yang menggambarkan keberadaan manusia itu sendiri, mempunyai sistem hukum adat, sistem sosial dan budaya.

Di Kabupaten Ende banyak orang mengenal dengan sebutan Nua Orha, Nua Ola dan Mboa. Sama halnya juga dengan yang lain, saya dahulu waktu kecil dibesarkan di Nua (kampung). Saya mengenal sesama keluarga dan leluhur di kampung.  Saya juga mengenal dan mengerti arti kebaikan seperti menolong sesama, hidup bergotong royong, bersolidaritas dan lainnya adalah di kampung.  Saya juga mengenal etika seperti kesopanan, cinta kasih dan berbudi baik juga di kampung.  Dan di kampunglah semuanya diajarkan. Saya, kamu atau kita yang mempunyai kampung pasti merasakan hal itu. Hidup toleransi ada di kampung, hidup menaati aturan hukum juga diajarkan di kampung dengan menaati hukum adat.

Di sisi yang lain saya juga melihat sumber kebutuhan ekonomi ada di kampung, karena di sanalah petani bangun pagi ke kebun dan bekerja. Semua kebutuhan pangan ada dan mencukupi kehidupan.

Saya sendiri adalah orang kampung maka saya pasti mengenal semua yang ada di dalam kampung, umpamanya cerita orangtua tentang kebaikan dan kebenaran. Di kampung juga saya diajarkan mengenal yang namanya musyawarah mufakat. Penulis juga mengenal yang namanya ekonomi rakyat yang bersifat barter. Dan bagi saya semua pengetahuan tentang apa pun ada di kampung.

Kita  harus bangga menjadi orang kampung,  namun bukan kampungan, kata Philipus Kami Ketua BPH AMAN Nusa Bunga suatu ketika.

 

Juan dan Jhon

Makan bersama, suasana hangat kekeluargaan. (Dok: Yulius Fanus Mari)

Menurutnya bahwa orang kampung adalah orang yang berkarakter, orang yang menciptakan peradaban, orang yang memiliki segalanya dalam menjaga alam dan memanfaatkannya. Sementara itu orang kampungan adalah orang yang lupa pada kampungnya, orang yang mengkhianati  kampungnya dan orang yang tidak mempunyai identitas yang jelas, primitif, sempit pemikirannya.

Sebenarnya kita sudah diajarkan oleh orangtua dan leluhur kita tentang pendidikan, seperti menjaga alam, mengelola Sumber Daya Alam (SDA) dan mengenal nilai-nilai sosial budaya. Bagi saya  pendidikan dasar itu sudah tertanam sejak kecil di kampung. Dan pendidikan seperti itu ada dalam diri. Sebagai contoh, orang yang tidak berpendidikan seperti yang diajarkan pendidikan formal saat ini bisa melakukan  hal-hal yang diajarkan di dunia pendidikan formal. Mereka bisa mengelola SDA, menjalankan nilai-nilai kehidupan sosial, mampu bermusyawarah, juga mampu untuk memimpin serta mampu untuk menciptakan apa yang diajarkan leluhur (dalam hal karya seni).

Saat ini menurut saya, kampung adalah sumber segalanya dari semua kebutuhan hidup manusia. Alasan saya mengapa menjadi sumber segalanya sebab di sanalah manusia hidup dan berkembang  dan mampu memberikan hidup bagi orang lain yang hidup di kota.

Orang yang hidup di kota sebenarnya dihidupkan oleh orang yang bekerja di kampung. Dan bagi saya kita harus bangga menjaga dan membangun kampung. Sebagian besar kita yang hidup di kota sebanarnya mempunyai sejarah asal-usul dari kampung.

Kalau saya analogikan bahwa masyarakat di kampung adalah orangtua, maka masyarakat yang hidup di kota adalah anaknya. Jadi jangan sekali-kali kita melupakan orangtua di kampung. Semua orang yang berada di kota sebenarnya anak-anak dari kampung.

Saat ini ketika anak tumbuh dan dewasa, mulai tidak mengakui lagi orangtuanya, tidak menghormati lagi orangtuanya yang melahirkan dan membesarkannya. Bahkan dituduh sebagai orang yang primitif, kolot, terpinggirkan dan mulai merampas dan menjual tanahnya. Begitulah analogi saya.

Jadi saat ini kita perlu menyadari bahwa pulang dan membangun kampung itu adalah bagian dari mengabdi kepada orangtua. Namun jangan membangun dari kampung hanya untuk menyenangkan hati orangtua dan ujung-ujungnya menipu.

Orangtua di kampung-kampung sudah mengajarkan nilai kebenaran dan kejujuran. Dan nilai itu sudah ditanam sejak kecil kepada kita.

Kita yang berasal dari kampung sebenarnya harus bangga  karena kita masih punya kampung. Kita tidak boleh malu mengatakan kalau kita adalah orang kampung. Orang kampung bukanlah orang yang primitif, kolot, terpinggirkan. Akan tetapi orang kampung adalah orang yang  benar, pintar dan berkarakter.

Jika saat ini seseorang tidak mempunyai kampung sebenarnya ia lupa terhadap orangtuanya dan lupa identitasnya dari mana ia berasal.

Sejarah Penjajahan Berulang

Sumber: Anonymous ART of Revolution

Untuk kaum muda yang berasal dari kampung mulailah kita bersama-sama membangun kampung. Wilayah adat harus kita jaga, begitu juga dengan SDA-nya. Sebab negara hari ini justru mengajarkan kita untuk meninggalkan kampung dan pergi menjauh dari kampung. Negara saat ini dengan alat kekuasaannya masih mengikuti watak penjajah. Bentuk pembangunannya bersifat eksploitasi dan diskriminasi. Negara belum membangun sesuai dengan karakter ketimuran kita yang menjunjung tinggi kebhinekaan tunggal ika.

Pendidikan yang difasilitasi oleh negara hanya untuk kita melupakan kampung, menindas dan menciptakan kita menjadi konsumtif. Tujuan membentuk sebuah negara hanya sebagai alat untuk merampas tanah dan sumber daya alam dan menghilangkan budaya dan adat istiadat kita. Sistem pendidikan yang diciptakan negara hanya untuk membuat kita menjadi kuli  di tanah sendiri. Kita akan tersisihkan di kampung sendiri dan akhirnya akan melupakan identitas sendiri.

~Yulius Fanus Mari~

May Day 2016: Momentum Politik Gerakan Sosial

Seperti yang kita ketahui setiap urusan hidup di Republik (Indonesia) ini selalu berhubungan dengan kegiatan politik karena tidak akan bisa lepas dari sirkulasi politik. Coba kita perhatikan kembali dari setiap kebijakan yang mencakup hidup orang banyak termasuk buruh, petani, mahasiswa, masyarakat adat, kaum miskin kota semua itu tidak akan lepas dari keputusan politik.

 

Dalam setiap kebijakan yang dibuat pemerintah seperti menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menyebabkan harga sembako dan kebutuhan lain melambung tinggi itu sangat dipengaruhi keputusan politik. Biaya sekolah yang sangat mahal, itu juga tidak luput dari keputusan politik. Jaminan sosial kesehatan seperti BPJS yang berbentuk asuransi untuk masyarakat Indonesia yang sulit dijangkau oleh rakyat kecil merupakan bagian dari keputusan politik.

 

Masih banyaknya upah yang di bawah Upah Minimum Kota (UMK) untuk kaum pekerja yang diberikan borjuasi (kapitalis) juga ditentukan oleh keputusan politik. Begitu pun dengan kontrak outsourcing. Bahkan pihak dinas ketenagakerjaan yang seharusnya melindungi pekerja malah lebih berpihak terhadap pemilik modal.

 

Perampasan tanah dan pembangunan di komunitas adat yang sering terjadi tanpa melibatkan masyarakat lokal (pribumi) yang menyebabkan konflik juga bagian dari keputusan politik.

 

Padahal selama ini urusan sudah diurus oleh mereka yang berada di Senayan yaitu lembaga legislatif kepanjangan dari partai politik. Akan tetapi sampai dengan sekarang belum mampu mewujudkan itu semua.

 

Kaum buruh, petani, mahasiswa, masyarakat adat dengan jumlah yang besar apalagi ditopang kualitas serta pengalaman sejarah masa lalu akan membuat persatuan kesadaran politik semakin membaik. Seperti kata Bung Karno: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kita harus belajar pada sejarah bangsa ini sehingga kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu tidak terulang kembali.

 

Ketika kita selalu menitipkan nasib pada orang lain, maka kemungkinan besar hanya sebagai alat kepentingan sekelompok orang yang ingin berkuasa saja dan urusan kita pasti tidak akan terwujud. Dari sisi agama pun kitab suci Al-quran menjelaskan bahwa Tuhan itu tidak akan merubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya. Artinya kita harus mampu merubah nasib sendiri tanpa dititipkan pada orang lain.

 

Pembagunan reklamasi di wilayah nelayan tanpa analisa matang akan berdampak pada kerusakan lingkungan ekosistem di laut. Hal ini tentu sangat berdampak untuk warga pesisir dan nelayan karena ikan yang biasa di pinggir laut beralih ke tengah sehingga biaya untuk melaut juga semakin besar.

 

Berdasarkan persoalan di atas, apa yang harus kita lakukan? Gerakan sosial, buruh, petani, nelayan, mahasiswa, masyarakat adat sudah saatnya merajut isu bersama dan menyusun sendiri alatnya untuk mewujudkan kebutuhannya dengan seadil-adilnya melalui alat politiknya sendiri.

 

Salah satu alat politik yang dimaksud adalah membentuk partai politik. Gerakan sosial dengan massa yang kuat semestinya bisa mewujudkan partai alternatifnya sendiri apalagi dengan adanya materi massa di setiap daerah. Artinya, sudah pasti ide itu akan terwujud asalkan tidak mementingkan kelompok.

 

Menurut hemat saya ini merupakan pencapaian politik yang sangat baik. Maka sudah layaklah kelompok ini bersatu dengan mendeklarasikan partainya sendiri. Deklarasi itu mungkin bisa dimulai dengan mendeklarasikan Ormas Multi Sektor yang murni berasal dari gagasan atau pengalaman ditindas di negeri sendiri seperti terjadi selama ini. Jadi seluruh elemen gerakan sosial sudah saatnya bangun dan bangkit untuk membangun partai politiknya sendiri.

 

Dalam momentum May Day mendatang seharusnya bisa menjadi saat terbaik untuk berefleksi bagi semua gerakan sosial. Sebab momen tersebut merupakan hari bersejarah bagi kaum pekerja. Karena disaat buruh mampu mengubah tatanan dunia dengan perubahan jam kerja yang pendek, bagitu juga dengan gerakan petani yang bisa mengambil kembali lahan garapannya. Contohnya seperti yang diperjuangkan Serikat Petani Pasundan/SPP baru-baru ini atau gerakan masyarakat adat yang berhasil menekan pemerintah daerah untuk membuat Perda Adat.

Moh Jumri

Barisan Pemuda Adat Nusantara

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, terdiri dari beberapa pulau dan disatukan oleh poros bahari. Setiap pulau memiliki beberapa suku yang berbeda-beda dan kekayaan budayanya masing-masing, kebudayaan itu adalah hasil cipta atau karya pemikiran para leluhur masyarakat adat di masa lalu. Suku yang ada di suatu pulau mengembangkan kebudayaannya dengan alam sekitarnya, oleh karenanya jarang kita jumpai dalam satu pulau di Indonesia hanya ada satu suku dan kebudayaannya.

Kebudayaan yang lahir dari masyarakat adat terkikis sejak masuknya penjajahan Kolonialisme di Hindia Belanda. Melalui misi 3G (gold, gospel, dan glory), Belanda berhasil menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang sudah modern dan memperkenalkan kebudayaan baru yang diadopsi dari barat. Agama (glory) adalah senjata utama kolonial belanda untuk menghancurkan kebudayaan masyarakat adat di Nusantara.

Memasuki babak baru (globalisasi) di era kemerdekaan Republik Indonesia saat ini, masyarakat adat serta kebudayaannya semakin terpinggirkan. Masyarakat semakin jauh dari kebudayaan aslinya dan bahkan ada sebahagian rakyat Indonesia yang sudah tidak mengakui dirinya sebagai masyarakat adat. Para pemuda di negeri ini seolah dipaksa untuk mengikuti arus kapitalisme, dan menghasilkan pemuda yang hedon serta individualis.

Refleksi Sungai Utik

Para pemuda adat dari berbagai penjuru Nusantara yang peduli terhadap situasi porak porandanya negeri ini berkumpul di Sungai Utik selama 23 hari (1- 23/9/ 2015), untuk membangkitkan keterpanggilan pemuda-pemudi adat kembali mengurus wilayah adatnya, membangun kemampuan pemuda-pemudi adat dalam hal menganalisa setiap persoalan di masing-masing wilayah adatnya, dan pemuda-pemudi adat dilatih memfasilitasi proses Rencana Kehidupan partisipatoris untuk mengurus wilayah adat secara arif dan berkelanjutan, berdasarkan adat-istiadat setempat.Sungai Utik adalah tempat bagi orang-orang yang ingin belajar. Sungai Utik terletak di Desa Batu Lintang Kabupaten Kapuas Hulu Kecamatan Embaloh Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Sungai Utik dihuni oleh Suku Dayak Iban. Mata pencaharian utamanya adalah bertani dan menganyam.

Alam dan budaya menyatu di dalam jiwa setiap individu masyarakat Suku Dayak Iban di Sungai Utik. Perpaduan inilah yang menjadi bahan pembelajaran bagaimana menyelamatkan hutan adat yang selama ini telah diklaim sebagai tanah negara atau hutan negara untuk dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Keharmonisan dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Iban dapat dilihat dalam hidup kesehariannya masih tetap teguh memegang tradisi para leluhurnya.

Berkaca pada masyarakat adat Dayak Iban, kekuatan utama masyarakat adat terdapat pada kesadaran terhadap apa yang diwariskan oleh leluhurnya. Tanah, air, udara adalah bentuk sumbangsih para leluhur kepada para generasi penerusnya untuk dapat bertahan hidup di muka bumi ini. Oleh karenanya, semua peninggalan itu harus kita jadikan sebagai bagian dari hidup kita dan harus kita jaga. “Ketika kita menjual tanah, sama saja kita telah menjual ibu kita sendiri,” demikian ungkapan Apay Janggut.

Begitu banyak pelajaran berharga yang didapatkan dari masyarakat adat Dayak Iban, mulai dari menghargai setiap benda yang ada di atas tanah melalui ritual-ritual adat, sampai pendidikan terhadap para generasi muda yang harus tetap melestarikan dan menjaga semua kekayaan budaya dan alam mereka.

Diskusi selama di Sungai Utik berlangsung sesuai jadwal, semua peserta saling berbagi tentang persoalan-persoalan yang terjadi di wilayah adatnya masing-masing. Format diskusi dalam bentuk ”Pasar Malam”. Pada acara pasar malam kami gunakan bertukar informasi. Melalui proses diskusi ini bisa disimpulkan bahwa konflik agraria yang terus berlanjut pada masyarakat adat di seluruh penjuru Nusantara sebagai bentuk penjajahan baru terhadap masyarakat adat.

Tanah adat adalah alat produksi bagi para petani, yang merupakan mata pencaharian pokok bagi masyarakat adat telah diklaim sebagai hutan negara melalui pemerintah – Dinas Kehutanan untuk dikelola oleh investor – perusahaan-perusahaan yang memiliki modal besar. Tidak satupun perusahaan yang berdiri di wilayah adat yang memberi kesejahteraan bagi masyarakat adat. Yang ada hanyalah kesengsaraan dan tangisan bagi masyarakat adat.

“Belajar sama-sama, bertanya sama-sama, kerja sama-sama. Semua orang itu guru, alam raya sekolahku, sejahteralah bangsaku”. Lirik lagu ini memberi motivasi bagi kami untuk tetap semangat dalam menjalani pelatihan di Sungai Utik. Semangat dan tegar tiap kali menyanyikan lagu ini secara bersamaan dengan gerak tepuk tangan bersambutan. Lagu ini mengingatkan kami bagaimana melawan sifat individualisme, semua yang ada di alam raya ini adalah guru.

Selama dalam proses pembelajaran, para pemuda melakukan metode pendidikan populer atau pendidikan kritis. Semua peserta dipersilahkan untuk memberikan ide-ide yang dimilikinya, untuk dituangkan dalam diskusi. Peserta juga diberi ruang untuk mengkritisi materi yang diberikan. Dialog sesama peserta dan dengan para fasilitator berjalan dengan baik, karena metode dalam pembelajarannya adalah belajar sama-sama.

Pendidikan adalah suatu alat untuk mencerdaskan manusia atau alat untuk memanusiakan manusia (humanisasi). Inilah yang menjadi persoalan besar di negeri kita. Pendidikan yang kami dapatkan selama ini ternyata tidak ubahnya dengan pendidikan semasa kolonial Belanda. Masyarakat hanya disuguhi pendidikan palsu. Konsep pendidikannya tidak mengakar dari kebudayaan bangsa ini, dan tidak pernah bisa menyelesaikan persoalan negeri ini.

Pendidikan populer adalah konsep pendidikan yang berpihak kepada kaum tertindas. Pendidikan populer inilah yang menjadi refleksi kami selama di Sungai Utik. Konsep pendidikan ini sangat dibutuhkan dalam memperkuat gerakan masyarakat adat Nusantara, seperti yang telah diimplementasikan oleh masyarakat adat Misac di Kolombia.

Mengikuti acara di Sungai Utik ini merupakan sebuah proses pendidikan yang sekaligus membahagiakan. Tidak ada kata menyerah untuk sebuah perjuangan kemerdekaan sejati. Bagi pemuda adat se-Nusantara (peserta pelatihan), persatuan adalah kunci dari sebuah perlawanan. Bangkit dan bergerak adalah kewajiban bagi seluruh pemuda adat untuk mewujudkan cita-cita para leluhur dan pendahulu kita, yakni kemerdekaan sejati.
Sungai Utik juga menjadi saksi bersatunya pemuda adat melawan penjajahan di bumi pertiwi ini. Pelajaran yang kami dapat, serta janji yang telah kami ucapkan di Sungai Utik akan menjadi bahan untuk memperkuat gerakan masyarakat adat ke depannya. Terimakasih untuk Sungai Utik.****Lasron P Sinurat

BARISAN PEMUDA ADAT NUSANTARA

MENJADI PEMUDA ADAT

KONTAK KAMI

Sekretariat BPAN, Alamat, Jln. Sempur, Bogor

officialbpan@gmail.com

en_USEnglish
en_USEnglish