Rina dan Kisah Hari Pertama BBJJ

Rina sedang menakar Ciu ke botol ketika dia bersiap-siap untuk join zoom siang itu (Sabtu, 12/9/2020). Dia akan mengikuti pertemuan daring pertama Belajar Bersama Jarak Jauh (BBJJ) yang diselenggarakan Pengurus Nasional Barisan Pemuda Adat Nusantara (PN BPAN).

BBJJ adalah kegiatan belajar bersama yang diorganisir PN BPAN bekerja sama dengan LifeMosaic. Kegiatan ini melibatkan sesama pengurus BPAN, baik nasional, wilayah maupun daerah. BBJJ bertujuan untuk menguatkan semangat Gerakan Pulang Kampung para pemuda adat dalam memperkuat wilayah adat atau kampungnya.

Pada masa pandemi COVID-19, hampir seluruh pekerjaan dilakukan semua orang secara daring. Begitu juga BBJJ. Sesuai dengan namanya Belajar Jarak Jauh, kegiatan ini diadakan menggunakan aplikasi rapat daring yaitu zoom. Aplikasi yang saat ini sangat populer di seluruh dunia.

Kepopuleran zoom di seluruh dunia, tidak serta merta membuat Rina mudah mengaplikasikannya di komunitas adat atau tingkat kampung. Usai menyelesaikan kerja mengisi Ciu, ia harus berjuang ekstra dan bersabar karena sinyal internet yang buruk di komunitasnya.

“Lebih dari 10 kali saya coba masuk baru bisa join zoom. Itu pun berkali-kali ketendang setelahnya dan ulang lagi masuk,” kata Ketua BPAN Wilayah Kaltara yang bernama lengkap Katarina Megawati.

Hari itu adalah hari perdana pelaksanaan BBJJ marathon selama sebulan.

Di momen pembukaan, BBJJ mendapat kehormatan dengan hadirnya Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi. Kehadiran Sekjen sangat bermakna. Selain kesediaannya bergabung, ia juga mengantarkan sambutan yang semakin mengukuhkan semangat generasi muda adat, khususnya dalam kerangka gerakan pulang kampung.

Sekjen AMAN mengawali sambutannya dengan pemaparan pembentukan BPAN. Ia menjelaskan pesan kuat tentang pentingnya kehadiran pemuda adat sehingga diperhitungkan dalam posisi-posisi strategis dan pengambilan keputusan.

“BPAN dibentuk secara khusus untuk memastikan peran generasi muda di organisasi bisa dimaksimalkan dalam pengambilan keputusan. Sayangnya selama ini, kelompok pemuda masih dianggap kurang kompeten dalam pengambilan keputusan organisasi dianggap belum punya pengalaman, masih anak kemarin sore, tidak tahu apa-apa,” jelas Rukka.

Ia memuji kinerja BPAN sejauh ini. Ia turut berpesan bahwa BPAN harus kuat. Hal ini karena tugas besar yang harus diperjuangkan pemuda adat, baik di level organisasi, komunitas, sesama generasi pemuda, hingga menjadi penopang organisasi.

Sekjen perempuan pertama AMAN itu melanjutkan pandangannya tentang Gerakan Pulang Kampung yang menjadi ruh setiap program BPAN.

Baginya, gerakan pulang kampung adalah gagasan dan tindakan revolusioner.

“Saya tak menyangka bahwa gerakan pulang kampung ini justru menjadi jalan penuntun pulang. Awalnya saya menganggap biasa sebab berpikir apa mungkin anak-anak muda yang pikirannya sudah kekotaan akan mau bertahan pulang kampung,” katanya.

Ia mengapresiasi kegigihan dan upaya konkrit yang dilakukan BPAN.

“Kalian sangat gigih memperjuangkannya. Ini yang disebut militansi. Kalian melawan arus besar atau tantangan yang selama ini arahnya ke kota, tapi kalian justru membalik arah panahnya. Hasilnya terbukti. Misalnya, saat ini sudah ada 55 sekolah adat seluruh nusantara yang digagas pemudi-pemuda adat” jelas Sombolinggi.

Perempuan adat Toraya itu, mengakihiri sambutannya dengan menekankan penguatan gerakan pulang kampung sebagai jalan utama bagi perjuangan gerakan Masyarakat Adat Nusantara.

“Gerakan pulang kampung ini adalah penunjuk jalan pulang, tempat untuk pulang, dan tempat untuk bercermin,” tutupnya.

Rina adalah peserta BBJJ bersama 20 orang pengurus wilayah dan daerah BPAN, mulai dari Kepulauan Aru sampai Kepulauan Mentawai. Sama seperti Rina, beberapa peserta lainnya juga sangat terbatas sinyal internetnya.

Rina berasal dari komunitas adat Bulusu Rayo, Desa Kelising, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Dari salah satu sudut kampung di utara Kalimantan, Rina bersusah payah meraih kebersamaan dengan peserta lain di zoom.

AMAN Indragiri Hulu Kukuhkan Kader Pemula Bersama BPAN Inhu

‘’Disirakan ke bumi dibindangkan ke langit’’ ucap Iskandar penuh semangat.

Ia memotivasi para Kader Pemula yang sedang mendengar sambutannya.

Pak Iskandar adalah seorang Batin atau Pemimpin Adat di Luak (komunitas adat) Penangki, salah satu komunitas adat anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Batin Iskandar, kini berusia 75 tahun. Selain sebagai Batin, ia juga adalah Ketua Dewan AMAN Daerah (DAMANDA) Indragiri Hulu. Beliau sudah dua periode menjadi ketua DAMANDA. Ia juga merupakan salah satu pendiri AMAN pada tahun 1999.

Ucapannya itu, dalam Bahasa Talang Mamak, berarti memberitahukan kepada orang banyak, baik secara nyata maupun gaib, bahwa yang dilakukan sudah terlaksana atau sah. Ini disampaikannya saat memberi sambutan di acara Pelantikan Kader Pemula AMAN Daerah Indragiri Hulu.

Acara pelantikan Kader Pemula AMAN Daerah Indragiri Hulu dilaksanakan pada Minggu, 19 Juli 2020, di Komunitas Adat Suku Ampang Delapan. Hutan Adat Durian Sirawang, di dekat Makam Diah, menjadi lokasi diselenggarakannya acara bersejarah tersebut. Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian acara yang sudah berlangsung sejak hari Sabtu, 18 Juli 2020.

Menurut, Jakob Siringoringo, Ketua Umum Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), Kader Pemula merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut individu yang ada di komunitas adat anggota AMAN.

“Ada tiga syarat yang harus dipenuhi untuk dikukuhkan sebagai Kader Pemula. Pertama, individu tersebut berasal dari komunitas adat anggota AMAN. Kedua, direkomendasi oleh komunitas, dilatih atau dipersiapkan oleh Pengurus Daerah dalam suatu rangkaian kegiatan Pendidikan Kader Pemula. Kemudian ketiga, setelah rangkaian Pendidikan Kader dipenuhi kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan Kader Pemula AMAN”, ungkap Jakob.

Ditambahkannya pula, bahwa ada 4 kategori/macam Kader di AMAN.

“Kader Pemula itu sebenarnya urusan Pengurus Daerah, Kader Penggerak urusan Pengurus Wilayah, Kader Pemimpin urusan Pengurus Besar, sedangkan Kader Utama adalah dengan kriteria tertentu, misalnya, sudah terbukti selama 15 tahun secara terus menerus mendukung gerakan AMAN,” tambahnya.

Acara ini dihadiri oleh 13 orang yang akan dikukuhkan sebagai Kader Pemula AMAN. Sebagian di antaranya merupakan pemuda adat. Mereka ini merupakan penerus masa depan Masyarakat Adat. Selain itu, hadir juga para Batin, Pengurus AMAN Daerah Indragiri Hulu, Masyarakat Adat, dan para undangan. Ibu-ibu, perempuan adat, juga nampak hadir dan sibuk menyukseskan acara. Kegiatan ini, diselengarakan menggunakan tata cara dan kearifan lokal Masyarakat Adat setempat.

Sekitar pukul 10.00 WIB kegiatan pengukuhan dimulai. Ritual adat menjadi awal acara. Kebiasan memulai acara dengan ritual adat memang menjadi aspek penting dalam semua aktivitas Masyarakat Adat. Menurut Supriadi Tongka, pemuda adat anggota BPAN Indragiri Hulu, ritual tersebut namanya Pogi bapadah balik bakoba.

“Tujuan ritual ini yaitu untuk memberi tahu leluhur yang ada di hutan itu bahwa kita berkunjung dan melakukan kegiatan di hutan adat tersebut”, tutur Supriadi.

Usai ritual, acara kemudian dilanjutkan sesuai susunan yang sudah dibuat. Pembukaan acara, disampaikan oleh Bunitz Shaputra. Selanjutnya semua yang hadir menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars AMAN. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua DAMANDA dan Ketua BPH AMAN Indragiri Hulu.

Dalam sambutannya, Pak Iskandar, selaku Ketua DAMANDA memberikan nasehat dan pesan motivasi. Ia menyampaikan bahwa semangat juangnya masih menggebu-gebu seperti anak muda, meski usianya sudah lanjut. Ia masih tetap berkomitmen untuk berjuang mempertahankan wilayah adat meskipun banyak ancaman dari perusahaan dan preman bayaran. Oleh karena itu, ia menyampaikan kepada para Kader Pemula yang dikukuhkan bahwa yang dilakukan ini telah disirakan ke bumi dibindangkan ke langit. Ia juga berharap bahwa semangat mereka memperjuangkan wilayah adat, harus melebihi semangatnya.

”Jangan pernah menyerah memperjuangkaan wilayah adat, karena masa depan Talang Mamak ada pada tangan kalian”, tegas Batin Iskandar.

Di kesempatan yang sama, Gilung selaku Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) AMAN Daerah Indragiri Hulu turut memberikan sambutannya. Ia berpesan kepada kader yang sudah dikukuhkan untuk lebih banyak berkerja di komunitas membantu Batinnya dalam mengurus adat, menggali sejarah, budaya, tradisi, dan kearifan lokal.

Sebelum acara puncak pengukuhan, Ketua DAMANDA Pak Iskandar, memberikan kartu kader kepada Kader Pemula yang ada. Dalam acara pengukuhan, para Kader Pemula mengucapkan Sumpah Adat sebagai ungkapan komitmen mereka menjadi kader AMAN dan menjadi penjaga adat budaya, serta ikut serta berjuang dalam perjuangan Masyarakat Adat. Pengukuhan ini dipimpin oleh Pak Irasan selaku Batin Talang Parit.

Mereka juga turut mengucapkan Janji AMAN sebagai ungkapan komitmen terhadap organisasi AMAN dan kesediannya untuk turut berjuang bersama AMAN. Ketua BPH AMAN Daerah Indragiri Hulu, Gilung, memimpin sesi ini.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir juga para anggota BPAN Daerah Indragiri Hulu. Salah satunya, Supriadi Tongka, pengurus BPAN Indragiri Hulu yang menangani Bidang Pengorganisasian. Ia menyampaikan bahwa dengan dikukuhkannya para Kader Pemula berarti bertambah lagi orang untuk berjuang bersama Masyarakat Adat. Menurutnya, ini berarti akan semakin banyak orang, terutama pemuda adat, yang akan berjuang bersama AMAN dan Masyarakat Adat, misalnya dengan mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan RUU Masyarakat Adat.

“Sangat penting RUU Masyarakat Adat disahkan, karena undang-undang inilah yang akan melindungi Masyarakat Adat atas ancaman kriminalisasi dan perampasan wilayah adat di pelosok nusantara ini. Belum lagi sikap pemerintah yang memberi karpet merah kepada investor. Karena itu, perlu ada undang-undang yang melindungi Masyarakat Adat atas hak-hak yang sudah melekat kepada Masyarakat Adat sejak dahulu”, jelasnya.

Acara pengukuhan Kader Pemula diakhiri dengan doa dan acara makan bersama. Lalu Sesi foto bersama menjadi acara yang paling akhir. *

 

Kalfein Wuisan

Pentingnya Jonga bagi Masyarakat Adat Hukaea Laea, Suku Moronene, Sulawesi Tenggara

bpan.aman.or.id – Jonga adalah rusa dalam bahasa Moronene. Dulu, satwa ini merupakan penghuni utama kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Setiap kali melintasi jalan poros di kawasan konservasi tersebut, perbatasan Kabupaten Bombana dan Konawe Selatan, kita biasa melihat kawanan rusa memunculkan kepala mereka dari balik padang ilalang. Bahkan tidak jarang kawanan rusa ditemukan sedang bermain atau melintas di jalan.

Pada masa itu boleh dikatakan bahwa jonga merupakan primadona di wilayah adat Hukaea Laea, yang berada di dalam kawasan TNRAW.

Hampir di setiap rumah penduduk terdapat tanduk rusa yang menghiasi dinding rumahnya, sebab tanduk jonga merupakan hiasan terbaik kala itu bagi orang Moronene Hukaea Laea, Kabupaten Bomabana.

Bila mana ada tamu datang dari luar daerah, masyarakat seringkali memberi oleh-oleh tanduk jonga bahkan jonga yang masih hidup.

Saya masih ingat sewaktu kelas 4 SD tahun 2005 dan masih berumur 10 tahun, ayah mengajak saya naik gunung. Waktu itu ayah masih Pu’u Tobu (kepala kampung) Hukaea laea.

Suatu pagi, kami berangkat menuju kaki Gunung Taunaula yang berada di bagian barat wilayah adat Hukaea Laea untuk melihat cara memburu jonga seperti yang dilakukan oleh leluhur kami secara turun-temurun, dan masih kami pertahankan hingga saat ini.

Pada saat itu, saya melihat jonga begitu banyak sedang berjalan berkelompok di hamparan savana yang luas, sembari memakan alang-alang muda yang tumbuh di savana.

Jonga atau rusa bertanduk panjang

Tetapi seiring waktu terus berputar dan tahun demi tahun berlalu, keindahan yang terlihat hari itu, kini hanya menjadi kenangan. Itulah terakhir kalinya saya melihat jonga-jonga yang besar-besar dan bertanduk panjang sebanyak itu.

Sebab para pemburu liar datang dan menyusup ke wilayah adat kami, lalu menjarah semua hewan buruan yang ada, bahkan membakar alang-alang di savana yang luas itu.

Bukan itu saja, mereka juga sering kali merusak dan menebang tanaman obat yang ada di dalam hutan yang dibutuhkan oleh warga kampung untuk menyembuhkan orang yang sakit.

Sejak itu, habitat jonga pun terancam karena sering diburu secara liar dan serampangan. Populasi jonga nyaris punah di wilayah adat Masyarakat Adat Hukaea Laea. Padahal sudah bertahun-tahun para leluhur Suku Moronene mbue-mbue periou (orang dulu) menjaga kelestarian alam beserta satwa yang ada di dalamnya.

Karena alamlah yang memberi mereka kehidupan, maka pantas pula alam untuk dijaga, dan lindungi serta dilestarikan.

Mereka punya tata cara atau kearifan lokal yang harus dipatuhi. Contohnya mereka hanya membolehkan berburu pada waktu-waktu tertentu dan sangat melarang keras memburu jonga betina yang sedang bunting apalagi membunuhnya.

Tidak lupa pula, Masyarakat Adat mempunyai hukum adat yang wajib dipatuhi serta ditaati di kampung tersebut.

Ketika melanggar hukum adat tersebut, maka si pemburu akan diberikan sanksi sosial yang harus di patuhi. Contoh sanksinya yaitu minimal membersihkan seluruh balai adat atau membayar denda.

Ada yang menganggap bahwa sebagian besar jonga-jonga itu menghilang secara gaib. Ada juga yang menganggap jonga-jonga tersebut nekat menyeberang laut ke arah pulau Muna demi menjaga kelangsungan hidupnya.

Walaupun populasinya hampir punah, Masyarakat Adat masih tetap berburu. Sekalipun harus bermalam-malam tinggal di hutan, mereka akan lakoni demi mendapatkan jonga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.

Ketika hewan buruan yang diburu masih hidup, maka akan dijadikan hewan piaraan dan dirawat hingga beranak pinak.

 

Juminal Noviansyah, Pemuda Adat Moronene, anggota BPAN

Jalani Masa Pandemi, Pemuda Adat Rakyat Penunggu Bercocok Tanam dan Beternak

bpan.aman.or.id – Coronavirus disease atau yang biasa disebut COVID-19, menurut WHO, telah tersebar di 213 negara. Di Indonesia sendiri, pemerintah melalui gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 (Gugus Tugas Nasional) mencatat penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 per 16 Juli mencapai 81.668 dan pasien meninggal sebanyak 3.873.

Hal tersebut menjadi konsen besar bangsa Indonesia karena permasalahan yang terus ditimbulkannya. Berbagai dampak terjadi mulai dari tingkat kematian meningkat, pemecatan pekerja, dan kesulitan ekonomi yang terjadi disemua kalangan mulai dari pengusaha kaya, sampai rakyat kecil, tidak terkecuali Masyarakat Adat.

Masyarakat Adat dalam sejarah telah berulang kali mengalami wabah penyakit dalam skala besar yang mengakibatkan berkurangnya penduduk. Victoria Tauli-Corpuz, pelapor khusus PBB untuk isu-isu Masyarakat Adat menjelaskan “Masyarakat Adat termasuk di antara mereka yang sangat rentan terhadap COVID-19 karena berbagai faktor. Ketika mereka berada di daerah perkotaan beberapa dari mereka biasanya berada dalam perekonomian informal dan merupakan pekerja rumah tangga yang membuat mereka rentan terhadap dislokasi ekonomi dan infeksi.”

Meskipun demikian, Masyarakat Adat justru memperlihatkan berbagai keunggulan dalam menghadapi pandemi ini seperti dalam mengelola pangan, kesehatan dan peran sosial.

Banyak hal yang dilakukan oleh Masyarakat Adat khususnya kami pemuda adat dalam mengelola wilayah adat agar dapat bertahan di tengah wabah pandemi ini.

Berbagai kegiatan produktif dilakukan oleh pemuda adat. Contohnya kami pemuda adat Rakyat Penunggu Sumatera Utara. Untuk mengisi waktu kosong dimasa pandemi, kami memanfaatkan fasilitas yang tersedia seperti tanah yang ada lantas kami kelola dan tanami.

Angga

Salah satu dari kami yaitu Angga pemuda adat Kampong Bandar Setia selama pandemi ini menghabiskan waktu untuk beternak kambing. Saat ini puluhan kambing ternakannya sudah mulai besar-besar. Dalam beberapa bulan ke depan, ia sudah bisa panen, mulai dari susu sampai daging.

“Saya sendiri bahkan secara sambilan berternak kambing. Untuk beternak kambing cukup memanfaatkan rumput-rumput di sekitar sebagai pakannya dan mengangon kambing juga sebuah kegiatan agar tubuh bergerak. Jadi seperti berolahraga,” kata Angga.

Kami menanam bayam, kemangi dan ubi dan buah-buahan, serta juga beternak kambing. COVID-19 tidak mengurangi semangat pemuda adat untuk terus melakukan kegiatan yang positif sembari mengikuti protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

 

Afni Afifah Harahap

Pemudi adat Rakyat Penunggu, Sampali & anggota BPAN Daerah Deli, Sumut

Bagaimana Pemuda Adat Inhu Menangkal Ancaman Krisis Pangan

bpan.aman.or.id – Supriadi Tongka kerap kali memposting foto-foto aktivitas sehari-harinya ke Facebook. Pernah ia memposting foto-foto lagi memanen padi, menanam benih kacang sampai yang terbaru pisang.

Beberapa waktu lalu, ia juga menjadi salah satu pemantik dalam Webinar bertajuk Tetap Panen Dimasa Sulit di Wilayah Adat yang diselenggarakan Pengurus Nasional BPAN. Bersama Beldis Salestina, Jhontoni Tarihoran, Modesta Wisa dan Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi, ia berbagi cerita tentang gerakan pulang kampung. Salah satu konteks konkret dibahas yaitu berkaitan dengan pangan terutama dimasa COVID-19.

Barisan Pemuda Adat Nusantara Daerah Indragiri Hulu, Riau, di mana Supriadi menjadi ketua untuk periode 2016-2019, saat ini sedang mengolah lahan berbidang empat hektar dan sudah ditanami aneka macam tumbuhan pangan. Ada kacang panjang, sayuran, pisang hingga umbi-umbian.

Menurut Supriadi Tongka, saat ini pemuda adat Talang Mamak dipercaya para Batin (tetua adat) guna mengelola wilayah adat secara komunal. Komunal artinya dikelola dan dimiliki secara bersama. Lahan tersebut selain bertepatan dengan pangan yang sedang menjadi persoalan dunia, juga sejak awal diperuntukkan sebagai aksi konkret pemuda adat di mana mereka langsung terjun bertani untuk tujuan kemandirian ekonomi.

Melalui penanaman ini pula mereka menunjukkan bahwa pemuda adat selain berjaga atas wilayah adat dan seluruh hak-hak yang melekat di atas dan di bawahnya, juga sebagai bentuk kesadaran bahwa pemuda adat harus bisa mandiri bahkan suatu saat membuka lapangan kerja.

Suher, Ketua Daerah BPAN Inhu menambahkan bahwa para pemuda adat bercocok tanam di wilayah adat sebagai bukti bagaimana dalamnya makna wilayah adat bagi Masyarakat Adat. Sebab, katanya, perjuangan kita selama ini adalah jangka panjang yang menghidupi.

Selain itu, Suher juga menekankan bercocok tanam sangat dibutuhkan dalam jangka waktu pendek. Sebab kondisi ketahanan pangan dalam situasi sulit ini adalah hal utama untuk menyambung hidup.

Badan Pangan dan Agraria Dunia (FAO) pada April lalu mengingatkan dunia, khususnya negara anggotanya di mana Indonesia termasuk di dalamnya, bahwa ancaman krisis pangan mengintai dimasa pandemi COVID-19. Pemerintah Indonesia juga tampak menaruh perhatian serius pada peringatan tersebut.

Artinya ancaman krisis pangan bukan tidak mungkin terjadi. Dimasa sulit sekarang, pangan menjadi bagian tak terpisahkan yang menjadi pertaruhan harian sampai berbulan.

Masyarakat Adat Nusantara yang berjuang bersama di AMAN juga telah jauh-jauh hari memprediksi dan menyiapkan diri untuk ancaman itu. Sejak awal virus corona merebak di Indonesia, Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi langsung mengeluarkan instruksi agar seluruh komunitas melakukan karantina wilayah bermartabat. Selain itu, dalam poin pentingnya juga diinstruksikan untuk mengecek dan mempersiapkan kebutuhan pangan.

Pemuda adat juga sadar betul bahwa kondisi sulit ini belum tahu kapan berkahir. Yang pasti pandemi terparah sejak Perang Dunia II ini tidak akan berakhir dalam waktu singkat. Sampai sekarang pun vaksin virus ini belum ditemukan, sekalipun telah terjadi banyak hal, misalnya keluarnya wacana pemerintah untuk menyambut new normal serta yang terbaru munculnya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang mengorbitkan kalung antivirus berbahan eukaliptus yang kontroversial.

Untuk itu pemuda adat nusantara dalam gerakan pulang kampung melanjutkan tindakan-tindakan konkretnya seperti menanam tanaman pangan.

Jakob Siringoringo

Dampak Pandemi di Barambang Katute

30 Mei 2020


oleh: Khaeruddin


Pandemi masih menyebar bahkan korban terus bertambah diberbagai belahan dunia. Tidak hanya merenggut kebebasan aktivitas, tapi juga merenggut sumber dan pundi-pundi kehidupan termasuk pangan.

Tidak ketinggalan Indonesia menjadi bagian dari itu yang kini korbannya mencapai puluhan ribu.

Selama ada jalan pandemi sigap menyusupi, tidak memilah untuk menyasar ke dalam ruang lingkup Anda, siapa pun anda bersiaplah untuk itu. Tidak tanggung-tanggung Kabupaten Sinjai telah menjadi bagian dari sebaran virus tersebut. Dikutip dari website covid19 sinjai (22 Mei 2020) enam belas orang dinyatakan positif.

Kebijakan para petinggi negeri yang terkesan lamban mengantisipasi jalur alternatif persebaran, membuat seluruh masyarakat harus hidup dipenuhi rasa was was. Satu persatu wilayah merasakan dampak, tidak terkecuali Masyarakat Adat Barambang Katute, Sinjai, Sulawesi-Selatan.

Rasa aman yang dulunya terjamin, secara perlahan memudar. Kebebasan beribadah sontak ditiadakan di berbagai masjid. Jadinya berkah Ramadhan hingga di penghujung terasa berkurang sebab tidak ada lagi buka dan tarawih bersama.

Semerbak penukaran rupiah dengan pangan melalui perdagangan bagai terpenjara. Potret petani sayur hanya mampu berjalan di tempat karena tidak dapat melakukan penjualan. Salah satu contoh, masih tersimpan stok wortel di kebun milik salah satu anggota komunitas, karena jalur pedagang diblokade. Karena alasan menjaga keamanan diri dari pandemi, penadah tidak berani datang mengambil stok. Apalagi himbauan #dirumahaja semakin gencar disuarakan melalui media berita televisi maupun radio.

Penjualan hanya dapat dilakukan di wilayah yang dianggap zona aman. Akibatnya, harga turun secara drastis. Melenceng jauh dari modal penanaman dan tenaga kerja sehingga dapat dipastikan musim ini mengalami kerugian.

Dipenghujung ramadhan ini kebutuhan bahan pokok makanan meningkat. Orang-orang harus ke pasar tradisional untuk memenuhi berbagai bahan kebutuhan dapur. Namun ketika berkunjung ke pasar harga bahan pokok seperti garam, minyak, dan bahan lainnya justru melambung naik dibandingkan sebelum adanya pandemi. Siklus ini tampak terbalik dengan harga yang dipatenkan dari dagangan petani.

Tapi dapur harus tetap mengepul. Lidah yang terlanjur membaur dengan asingnya garam tidak dapat dielak. Kita di gunung tidak memiliki laut untuk menadah kristal putih dan asin itu.

Meski demikian, Masyarakat Adat yang sejatinya petani tetap bercocok tanam untuk memenuhi lumbung pangan mereka.

Mengutip kalimat petuah “aga mutaneng, iyato muruntu” (apa pun yang kamu tanam, itulah yang kamu dapatkan). Maka tidak ada kata menyerah bagi petani. Bersama kucuran keringat, mereka berharap agar pandemi segera berlalu dan negeri kita kembali pulih.

Pandemi mereda adalah impian kita bersama; sebuah harapan yang entah kapan tiba. Kita hanya mampu menutup diri. Mengikuti protokol kesehatan. Memerangi, walau musuh tidak tampak.

PD BPAN Osing Sosialisasikan Hasil Jamnas Ketiga Lewat Rakerda

bpan.aman.or.id, BANYUWANGI – Pengurus Daerah Barisan Pemuda Adat Nusantara (PD BPAN) Osing Banyuwangi melakukan rapat kerja daerah (rakerda) sekaligus melakukan pendidikan kaderisasi untuk anggota baru. Acara tersebut dilaksanakan di Dukuh Kopen Kidul, Desa Glagah, Kabupaten Banyuwangi Sabtu (2/2). Dalam agenda tersebut juga dihadiri oleh Ketua Umum BPAN, Dewan Nasional BPAN dan Ketua PD AMAN Osing Banyuwangi.

Pada rakerda tersebut ada beberapa poin penting dalam program kerja untuk tahun 2019 yang sudah dirumuskan. Diantaranya dalam bidang kewirausahaan, Kaderisasi, Kebudayaan dan agitasi media.

Koordinator kewirausahaan Devi Kristanti mengatakan bahwa pihaknya akan memaksimalkan perekambangan teknologi informasi untuk membantu pemasaran produk para pemuda adat. Sebab menurutnya E-Commerce saat ini menjadi media yang paling efisien dan efektif guna memasarkan produk. Salah satu langkahnya, dia akan bekerja sama beberapa pengusaha dari pemuda adat yang dinilai cukup berhasil dalam menjalankan bisnis yang mengandalkan E-Commerce.

“Kami akan bekerjasama dengan beberapa pelaku usaha, seperti Byek yang pemiliknya juga anggota BPAN,” kata Devi.

Baca juga

Arif Wibowo, Koordinasi Bidang Riset dan Pengembangan mengatakan workshop tersebut akan menghasilkan output visual infogradik sebaran Desa Using Se-Kabupaten banyuwangi. Selain itu workshop itu juga untuk mengklasifiikasikan keragaman ruang budaya Suku Using yang terbagi secara geografis dalam bentuk catatan. Sementara itu bidang riset dan pengembangan, program kerja pada tahun 2019 ini adalah mengadakaan workshop membuat peta wilayah budaya Using Se-Kabupaten Banyuwangi degan pendekatan visual dan etnografi.

“Hasilnya nanti dibagikan kepada publik sebagai bagian dari edukasi tentang sebaran masyarakat Using di Banyuwangi,” Ujar Arif.

Di tempat yang sama Ayu Peratiwi Koordinator Bidang Sosial Budaya mengatakan bahwa ke depan tetap menjadi prioritas karena itu menjadi salah satu identitas pemuda adat yang paling mudah diidentifikasi oleh pihak luar.

Dikatakan Ayu bahwa saat ini semangat anak muda terhadap kesenian masih tinggi. Salah satunya melestarikan budaya pembacaan lontar yusuf yang dijadikan program prioritas. Sebab tradisi pembacaan ini mulai terancam sehingga dibutuhkan regenerasi agar selalu lestari.

Sedangkan  bidang koorganisasian, masing-masing anggota BPAN Osing akan mendapatkan kartu anggota. Program kunjungan kampung ke komunitas juga akan diijalankan dengan tujuan agar meningkatkan keakraban antar anggota serta memperluas kader baru. Selain itu, peningkatan pengetahuan terkait jurnalistik untuk anggota baru akan dijadikan agenda ke depan. Sehingga nantinya kader baru bisa lebih aktif memanfaatkan media sosial untuk ajang pergerakan dalam memperluas organisasi.

Pada kesempatan itu , PD BPAN Osing juga melakukan proses peralihan jabatan pengurus 2017-2020. Dari yang sebelumnya Ketua Kezia Fitriani, Slamet Ichlasul Amal selaku Sekretaris, dan Indah Pratiwi Bendahara. Hal itu, dilakukan karena dari beberapa mereka sedang merangkap dua jabatan strategis di PD AMAN agar memaksimalkan berjaalannya organisasi.

Adapun Ketua pejabat sementara PD BPAN Osing yang terpilih yakni Ilham Syaifullah, sekretaris Ayu Perwitasari, dan Zessy Irama selaku bendahara. Mereka akan menjabat satu tahun kedepan atau sampai periode 2017-2020 berakhir.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Mba Kezia Fitriani yang sudah memimpin PD BPAN Osing selama ini, dan saya akan melaksanakan mandat ini sampai tahun depan, saya harap kawan-kawan tetap mendukung dan mengingatkan saya saya bisa ebih baik,” harap Ilham.

 

Penulis: Abar Wijaya, anggota BPAN Osing

Mahasiswa IAIM Diberhentikan Akibat Kritik Kebijakan Kampus

Bpan.aman.or.id SINJAI – Tujuan pendidikan ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tertuang dalam konstitusi. Namun realisasi dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 tersebut terbilang masih sangat lemah, terutama pada perguruan tinggi. Senin, (28/1/2019).

Salah satu contohnya seperti yang dialami salah satu Mahasiswa Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Sinjai, Sulawesi Selatan.

Nuralamsyah adalah salah satu Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum Islam (FEHI). Dia diberhentikan secara tidak terhormat atau Dro Out (DO) lantaran diduga karna aksi protesnya atas kebijakan kampus yang dinilai tidak berpihak kepada Mahasiswa, pada Selasa, (15/1/2019) lalu.

Alam sapaan akrabnya, memprotes kebijakan kampusnya yakni pembayaran kartu ujian yang dinilai terlalu mahal dan tidak transparan. Dengan nominal Rp.80.000 rupiah, menurut Alam adalah terlalu mahal.

Sehingga ia beserta beberapa rekannya protes dengan melakukan aksi di halaman kampusnya. Karena protes lalu di DO, menurut Alam, adalah tindakan yang sungguh tidak masuk akal.

“Kami aksi menuntut pembayaran kartu ujian yang terlalu mahal dan menuntut transparansi pengelolahan anggaran kampus IAIM Sinjai,”terangnya.

Selain itu, ia mengaku tidak ada teguran lisan dan tertulis yang dijatuhkan kepadanya.

“Tidak ada teguran lisan apalagi tertulis, itu tidak ada, tiba-tiba saja dikeluarkan surat yang berisi surat keputusan pemberhentian kepada saya, saya menduga hanya karena persoalan aksi menyampaikan aspirasi menuntut persoalan anggran yang tidak transparan dan pembayaran kartu ujian yang terlalu mahal,” Pungkasnya.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari pihak Kampus IAIM Sinjai.

DDK PB- AMAN Tularkan Kemampuan Menulis Pemuda Lewat Pelatihan Jurnalis

Bpan.aman.or.id RIAU – Direktorat Dukungan Komunitas dari Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB-AMAN) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Pekanbaru (YLBHI-red) tularkan kemampuan menulis pemuda adat talang mamak lewat pelatihan pendokumentasian data sosial  dengan penggunaan aplikasi AMAN apps. Acara tersebut berlangsung selama dua hari dari tanggal 21-22 Januari 2019.

Direktorat Dukungan Komunitas (DKK) dari Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB-AMAN) Annas Radin Syarif menjelaskan tentang teknik menululis berita yang tidak rumit dan mudah dipahami oleh si penulis maupun orang lain (pembaca), menurut Anas sebelum orang lain memahami yang akan kita tulis, tentunya penulis (kita) harus juga paham.

“Kita bisa memulai menulis dengan kehidupan sehari-hari di komunitas adat di talang mamak atau dengan sejarah masayarakat adat, nanti didokumentasikan di Aplikasi AMAN Apps,”terang Annas.

Baca juga : BPAN Inhu Teruskan Menelusuri Jejak Leluhur

Selain itu, Annas juga menerangkan tentang proses penggabungan audio, fhoto dan video lewat handphone android dengan menggunakan aplikasi AMAN Apps. Annas mengatakan aplikasi AMAN Apps merupakan aplikasi yang dibuat untuk masyarakat adat.”Agar isu dan masalah sosial di masyarakat adat bisa terpublikasikan terutama tentang tanah,”tutur Annas.

  
Menurut pria berbadan besar itu anak muda di talang makak juga bisa membuat website sendiri atau website oraganisasi BPAN. Menurutnya lewat website atau aplikasi AMAN Apps pemuda adat bisa mempromosikan produk usaha lokal di komunitas atau profil komunitas.

“Mumpung belajar dan menulis ini gratis, kita manfaatkan itu untuk kepentingan masyarakat adat di sini.”ucap Annas.

Selain Annas, turut hadir juga ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PD-AMAN) indragirihulu Gilung dan Farid Wadji dari PB AMAN yang juga ikut menjelaskan tentang cara menggunakan aplikasi AMAN Apps.

Penulis : Suher

 

Kader AMAN di Sabaki Sedang Dorong Pengakuan Hutan Adat

Bpan.aman.or.id LEBAK – Jaro Citorek Barat Jajang mengatakan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bisa rebut kebijakan lewat politik di tingkat level Desa, (14/1) sekira pukul 19.00 WIB. Dia mengatakan bahwa kebijakan yang dirasa sederhana tapi harus diperjuangkan itu di Desa.

“Wilayah adat yang letaknya di beberapa Desa, tentu itu harus melibatkan aparat Desa, maka dari itu AMAN harus dorong benar-benar kalau ada kadernya yang akan maju menjadi kepala Desa dan saya salah satu kader adat yang didorong oleh AMAN,”tegas Jajang.

Menurut mantan Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (DAMANAS) Region Jawa ini mengatakan bahwa di wilayah adatnya yang akan sekarang diajukan hutan adatnya itu terletak di lima Desa, hal itu tentu sudah pasti lobi komunikasi politik di tingkat Desa juga harus kita mainkan dan konsolidasinya harus diperkuat.

Baca juga : Kadus Cimapag Minta AMAN Doakan Korban Bencana Longsor di Sinaresmi

“Kebijakan politik di Desa dalam melakukan pemetaan batas-batas wilayah tentu harus kita mainkan, ini saya harus melobi ke empat desa lain agar mereka setuju tentang penetapan hutan adat,”tutur Jajang.

Dikatakan Jajang, dirinya juga ikut telibat dalam mendorong perda adat di Kabupaten Lebak pada tahun 2015, menurut Jajang kalau pemerintah daerah tidak kita duduki orang lain belum tentu juga paham tentang masalah di masyarakat adat.

“Untuk di Sabaki ada tujuh kader adat yang menjadi jaro dan mereka sekarang sedang memperjuangkan perintah kasepuhan di Desa yang mempunyai wilayah adat,”tutur Jajang.

Jajang mengatakan di Lebak ada sekitar tujuh kader aman yang sukses merebut kepala Desa, diantaranya ialah di Desa Citorek, Cirompang, Sindangraya, Cikadu, Cisungsang, Cibararani dan Kasepuhan Karang, “Kami ada dua tanggungan yang harus dikerjakan, yang pertama tugas dari kasepuhan karena kami dilantik dengan menggunakan upacara adat dan harus sanggup menjalankan janji yang telah disepakati. Selanjutnya mandat negara yang harus dilaksanakan karena ini juga penting,”tegas Jajang.

Jajang menjelaskan bahwa sebagian wilayah adat yang sedang diajukan juga masih diklaim taman nasional, tapi menurunya itu sedang kita urus dan sudah dipetakan bahwa wilayah yang diklaim itu bukan milik taman nasional. Jajang juga berharap kepada AMAN agar senantiasa memberikan pemahaman-pemahaman polotik kepada kader-kader dari anak muda agar kedepannya terbiasa dengan situasi politik.

 

BARISAN PEMUDA ADAT NUSANTARA

MENJADI PEMUDA ADAT

KONTAK KAMI

Sekretariat BPAN, Alamat, Jln. Sempur, Bogor

officialbpan@gmail.com

en_USEnglish
en_USEnglish