Pilih Ketua Umum Baru, BPAN Gelar Jambore ketiga di Kaltim

Aman.bpan.or.id KALTIM – Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) yang tersebar dari tujuh region mengadakan Jambore Nasional (JAMNAS) Ketiga yang digelar di, Kampung Muser, Kecamatan Muara Samu, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur, Rabu (18/18).sekira pukul 09.00 Wita. Peserta Jambore ketiga dari tujuh region itu diantaranya berasal dari Region Papua, Maluku, Bali Nusa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Region Jawa.

Jambore ketiga berlangsung selama lima hari, yaitu dimulai dari tanggal 18 sampai dengan 22 April 2018 dan dihadiri oleh 160 orang lebih pengurus BPAN dari berbagai Wialayah, Daerah dan Komunitas Adat Senusantara. Dalam acara tersebut turut hadir Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi, Deputi I Urusan Organisasi Pengurus Besar (PB) Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Eustobi Renggi, Abdi Akbar Direktorat Politik PB AMAN, Agus Galis Direktorat Kebudayaan PB AMAN dan Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemkab) Paser.

Baca juga :

Kegiatan Jambore tersebut dibuka dengan pemukulan Gong oleh Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi dan diikuti oleh seluruh pemuda-pemudi yang hadir. Selain itu, pada pembukaan Jambore ketiga diadakan ritual adat oleh tokoh masyarakat adat yang ada di kampung Muser dan diiringi dengan tarian kebasaran dari Minahasa.

Dalam Sambutanya, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi menyampaikan bahwa BPAN merupakan sayap organisasi dari AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) yang paling tua, dibandingkan organisasi sayap lain, yaitu Perhimpunan Pengacara Masyarakat Adat Nusantara (PPMAN) dan PEREMPUAN AMAN.

“Saya berharap BPAN bisa aktif terlibat dalam setia proses pengambilan keputusan di Komunitas Adat, selain itu, anak muda juga harus bisa membangun martabat masyarakat adat.”harap Rukka.

Dikatakan Rukka saat ini, beberapa anggota dari BPAN yang ada di Wilayah, Daerah maupun Kampung terlibat dalam menginisiasi berdirinya sekolah adat. Menurutnya dengan model pendidikan adat, sudah pasti masnyarakat adat akan tetap ada. Karena generasi sekaranglah yang akan menjaga budaya dan tradisi untuk beberapa tahun ke depan.

“Ilmu yang diajarkan dipendidikan formal yang sekarang sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan mereka di kampung, sehingga memaksa anak muda untuk pergi ke kota mencari pekerjaan. Berbeda dengan sekolah adat yang diinisiasikan kita,”terang Rukka.

Baca juga : Persiapkan Jambore keempat, BPAN Sembalun Lakukan Deklarasi Pengurus Baru

Dijelaskan Rukka bahwa dalam setiap masa anak muda akan menghadapi persoalan-persoalan seperti dijajah budaya lokalnya oleh kebudayaan asing bahkan dirampas ruang hidupnya karena munculnya investor-investor untuk berinvestasi di wilayah adat tanpa melibatkan masyarakat adat.Para peserta dan panitia larut dalam suasana Jambore ketiga itu, mereka memberikan ide-ide semangat bersama dari anak muda dari berbagai komunitas adat yang hadir. Dalam kemudian menghasilkan keputusan-keputusan yang dianggap penting untuk dilaksakan selama tiga tahun kedepan oleh pengurus yang terpilih nanti.

Kegiatan Jambore dilanjutkan dengan menyusun beberapa draf program-program oleh panitia dan nantinya akan disajikan pada saat rapat sidang-sidang umum untuk memilih kepengurusan yang baru di BPAN. Selanjutnya kegiatan diteruskan dengan seminar politik generasi milenial masyarakat adat yang difasilitasi oleh bagian Direktorat Politik Pengurus Besar AMAN yang dilakukan di Gedung Serba Guna Milik Kecamatan Muara Semu.

Sementara itu, dihari kedua dilanjukan dengan saresehan-saresehan, seperti saresehan pendidikan adat, saresehan hak ata tanah , saresehan sistem bagaimana caranya membuat peta wilayah adat, saresehan bagaimana caranya memanfaatkan teknologi digital sebagai ajakng propaganda oleh anak muda dan pertunjukan seni budaya dengan bertujuan untuk membangun kesadaran kritis di komunitas.

Selanjutnya dihari terakhir dilanjutkan dengan sidang-sidang umum untuk membahas tentang tata tertib pelaksanaan pemilihan pemimpin sidang dan juga mendengarkan laporan penyelenggaraan organisasi berkala dari Ketua Umum BPAN 2015-2018 Jhontoni Tarihoran. Setelah mendengarkan laporan penyelenggaraaan organisasi dan meberikan masukan, dilanjutkan dengan Pemilihan Pengurus BPAN yang baru periode 2018-2021. Mulai dari pemilihan Dewan Barisan Pemuda Adat Nusantara (Depan) ditujuh region dan pemilihan ketua umum BPAN.

Dalam sidang-sidang umum dengan model pengambilan keputusan musyawarah dan mufakat yang dilakukan seluruh pengurus BPAN ditetapkan Dewan Pemuda Adat Nusantara (Depan) dari tujuh region, ketujuh region itu, diantaranya Region Papua memandatkan Sem Vani Ulimpa, Region Maluku Erlina Darakay, Region Bali Nusa Lalu Kesumajayadi, Region Sulawesi Joko Sunarto, Region Kalimantan Paulus Ade Suka Yadi, Region Jawa Zebril Bahril Ulum dan Region Sumatera Jhontoni Tarihoran.

Sementara untuk mandat ketua Umum BPAN periode 2018-2021 yang baru yaitu diputuskan sodara Moh Jumri dari Jawa. Selanjutnya mereka lah yang akan mejalankan roda organisasi BPAN tiga tahun ke depan.

Ketua Umum Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Moh Jumri mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang telah mempercayakan dirinya untuk memimpin BPAN dalam tiga tahun ke depan. Ia juga berharap kepada pengurus yang lama agar bisa memberikan saran dan kritikan untuk dirinya, menurutnya itu dirasa penting karena mereka lah yang selama ini paham dalam melaksaksanakan kegiatan organisasi di Pengurus Nasional.

“Harapan saya, pengurus yang lama bisa tetap bersama-sama membantu BPAN terutama dalam memberikan ide-ide dan gagasan dalam memajukan organisasi, BPAN ini bukan hanya milih saya, ini oragnisasi pemuda adat nusantara.”tutur Jumri.

Dilanjutkan Jumri bahwa dirinya akan menjaga kepercayaan yang diberikan oleh kawan-kawan pemuda adat senusantara. Menurutnya agar sejalan dengan garis-garis perjuangan AMAN, BPAN harus selalu terlibat dalam kegiatan organisasi induk. Selain itu, dia juga mengajak kepada seluruh pengurus BPAN agar melakukan konsolidasi internal organisasi dengan cara mendata ulang kader-kadernya. Kata Jumri BPAN juga harus tetap terlibat dalama kegiatan sosial seperti melakukan solidaritas sesama anggota yang terkena musbiah.

“Pemuda Adat harus berada di garis paling depan dalam setiap agenda AMAN, Saya mengajak teman-teman Pengurus BPAN agar menginventarisir anggotanya di setiap komunitas,.’’tungkas Jumri.

 

Penulis : Nanang Noise 

Ritual Tiwah

Oleh Hantingan

 

Rabu 8 Juni 2016 – Masyarakat Adat Datah Poah (Cangkang) Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah tengah melaksanakan ritual adat memindahkan tulang –belulang manusia yang sudah lama meninggal untuk persiapan kegiatan Totoh/ Tiwah (ritual menghantar roh yang bersangkutan menuju lewu tatau/ surga).

Ritual adat ini memang sudah dilakukan oleh Suku Dayak Siang Murung yang beragama Hindu Kaharingan dari zaman nenek moyang terdahulu yang maknanya yaitu untuk memindahkan tulang tersebut dari peti jenazah lalu dipindahkan ke rumah berbentuk kecil atau yang biasa disebut dengan sandung.

Ritual  ini dilaksanakan oleh keluarga almarhum. Prosesi acaranya yaitu menggali kembali kuburan jenazah yang sudah lama dikubur, lalu membongkar peti jenazah tersebut dan mengumpulkan tulang-tulangnya untuk dibersihkan dan kemudian memasukkannya ke dalam sandung dengan keadaan bersih. Di dalam sandung tersebut sudah tersedia satu kain bahalai dan satu stel pakaian untuk alas tempat tulang-tulang tersebut.

Untuk melakukan ritual ini tidak bisa sembarangan. Dalam ritual ini harus ada yang namanya basi/ basir sebagai pemimpin ritualnya. Selain itu juga harus disediakan babi dan ayam sebagai konsumsi semua orang yang melaksanakan ritual tersebut maupun tamu undangan.

Ekspresi Musik Tradisional

 

 

Pesta Budaya Rondang Bittang

 

Pesta Rondang Bittang adalah suatu kegiatan yang bersifat massal serta tradisional pada suku Simalungun. Pesta Rondang Bittang merupakan penyampaian rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala keberhasilan hidup dalam satu tahun penuh. Pesta ini dilakukan pada saat bulan purnama di mana bintang-bintang turut menambah keindahan terang bulan. Perayaan ini merupakan sarana mempererat rasa kekeluargaan, melestarikan seni budaya bangsa sebagai peninggalan leluhur, kesempatan bersukaria di antara seluruh warga masyarakat dan pewarisan serta kesempatan mempelajari seni budaya bagi generasi muda dan remaja.

 

pretty tujuh

Menari massal [Dok. Pretty Manurung]

 

Di dalam acara ini banyak bentuk-bentuk kesenian Simalungun yang ditampilkan, seperti Tortor Sombah yang disebut-sebut sebagai tarian agung atau tarian klasik yang biasa dipersembahkan untuk menyambut orang-orang yang dihormati. Jumlah penari dalam Tor Tor Sombah/sembah ini enam orang. Selain itu, terdapat Huda-huda atau Toping-toping yaitu tarian Simalungun yang memakai topeng dan paruh burung Enggang. Jenis tarian ini diiringi Gual Huda-huda, jumlah penarinya ada tiga orang. Ada lagi Taur-taur yakni duet tradisional Simalungun yang menggambarkan cinta yang berkomunikasi melalui lagu.

 

pretty lima

Tortor Sombah [Dok. Pretty Manurung]

 

Tidak hanya itu, ada berbagai macam lagi acara yang ditampilkan mulai dari menari Tortor (manortor), menyanyi (taur-taur), berbalas pantun (marumpasa) dengan diiringi musik tradisional seperti Gual, Sulim, Sordam, Tulila sampai olahraga ketangkasan tradisional.

***

Masyarakat suku Simalungun memiliki musik tradisional yang secara turun-temurun digunakan dan berfungsi dalam kehidupan sehari-harinya. Musik tradisional Simalungun diwariskan turun-temurun secara lisan kepada generasi berikutnya.

Penggunaan Sarunei dalam ensambel gonrang sebagai musik pengiring tari-tarian yang ditampilkan dalam Pesta Rondang Bittang, misalnya,  dapat memberikan reaksi jasmani pada setiap penonton. Bunyi-bunyian Sarunei tersebut akan menjadi sumber komunikasi bagi masyarakat, baik yang muda maupun tua. Sehingga para penonton yang biasanya mayoritas muda-mudi berdatangan ke tempat tersebut untuk menonton, melihat, menari dan menggunakan kesempatan tersebut untuk saling berkomunikasi, berinteraksi bahkan mencari jodoh.

***

Berdasarkan pengklasifikasian/penggolongannya, maka alat-alat musik tradisional Simalungun dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Klasifakasi/Golongan Idiofon

  1. Mongmongan, yaitu alat musik yang terbuat dari bahan metal, kuningan atau besi yang mempunyai “pencu” (bossed gong). Ada dua jenis mongmongan: sibanggalan dan sietekan yang dipergunakan dalam seperangkat gonrang sidua-dua dan gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon. Fungsi mongmongan dipergunakan untuk memanggil massa di suatu kampung.
  2. Ogung, yaitu alat musik yang terbuat dari bahan metal, kuningan atau besi yang mempunyai pencu (bossed gong). Ogung juga memiliki dua macam yaitu sibanggalan dan sietekan yang dipergunakan dalam seperangkat gonrang sidua-dua dan gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon.
  3. Gerantung, adalah alat musik yang terbuat dari kayu dan mempunyai kotak resonator (trough resonator). Kotak resonator ada yang terbuat dari kayu, ada yang langsung ditempatkan di atas lobang tanah sebagai resonatornya. Gerantung terdiri dari tujuh bilah dan mempunyai nada yang berbeda. Gerantung biasanya dimainkan sebagai hiburan ketika istirahat di ladang sebagai pelepas lelah dan sebagai bahan pelajaran untuk menabuh gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon.

Klasifikasi/Golongan Aerofon

  1. Sarunei bolon, suatu alat musik yang mempunyai dua lidah (double reed) sebagai lobang hembusan yang dipergunakan sebagai pembawa melodi dalam seperangkat gonrang sidua-dua dan gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon. Badannya terbuat dari silastom, nalih-nya terbuat dari timah, tumpak bibir terbuat dari tempurung, lidah terbuat dari daun kelapa dan sigumbang terbuat dari bambu. Sarunei bolon mempunyai enam lobang di bagian atas dan satu lobang di bawah.
  2. Sarunei buluh, adalah suatu alat musik yang mempunyai lobang hembusan yang terdiri dari satu lidah (single reed) yang memukul badannya sendiri. Sarunei buluh yang terbuat dari bambu ini mempunyai tujuh lobang suara. Enam lobang berada di bagian atas dan sisanya di bagian bawah.

Klasifikasi/Golongan Membranofon

  1. Gonrang Sidua-dua, adalah gendang yang dipergunakan dalam seperangkat gonrang sidua-dua. Badannya terbuat dari kayu Ampiwaras dan kulitnya terbuat dari kulit Kancil atau kulit Kambing. Gonrang sidua-dua terdiri dari dua buah gendang, oleh karena itu diberi nama gonrang sidua-dua.
  2. Gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon, adalah gendang yang terbuat dari kulit pada bagian atas sedangkan sebelah bawah ditutup dengan kayu. Gendang terdiri dari tujuh buah yang badannya terbuat dari kayu dan kulitnya terbuat dari kulit lembu, kerbau atau kambing. Gendang ini dipergunakan dalam seperangkat gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon.

Klasifikasi/Golongan Kordofon

  1. Arbab, adalah alat musik yang tabung resonatornya terbuat dari labu atau tempurung; lehernya terbuat dari kayu atau bambu; lempeng atas terbuat dari kulit kancil atau kulit biawak; senar terbuat dari benang dan alat penggesek terbuat dari ijuk enau yang masih muda.
  2. Husapi, adalah alat musik sejenis lute yang mempunyai leher, terbuat dari kayu dan mempunyai dua senar. Bagian badan dan lehernya dihiasi gambar ukiran wajah manusia.

***

Masyarakat Batak Simalungun merupakan suku yang sangat menjunjung tinggi warisan leluhur. Ucapan syukur mereka senantiasa dipanjatkan lewat upacara adat. Budaya para leluhur yang menjadi kebanggaan suku Simalungun salah satunya adalah pemakaian Ulos. Ulos yang disebut Hiou sarat ornamen. Secara legenda bagi masyarakat Simalungun, Ulos dianggap salah satu dari tiga sumber kehangatan manusia selain api dan matahari.

Sampai sekarang ini Pesta Rondang Bittang masih dilestarikan dan menjadi pesta tahunan bagi masyarakat Simalungun, Sumatera Utara.

pretty

Pemuda budaya [Dok. Pretty Manurung]

 

[Pretty  Manurung]

 

Molo So Hita Ise Be/Kalau Bukan Kita Siapa Lagi

Pemuda adat adalah bagian dari perjuangan masyarakat adat. Pemudalah generasi yang akan meneruskan estafet perjuangan mempertahankan tanah leluhur/wilayah adat dan kebudayaan. Suara pemuda untuk didengarkan oleh PBB adalah suatu yang teramat urgen juga dipertimbangkan.

[embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=B6HqwR5hw5E[/embedyt]

Sumber video: Indonesia Nature Film Society (Infis)

Media BPAN

Wadah Gerakan Pemuda Adat Kalimantan Barat Terbentuk

Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) sebagai salah satu sayapnya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menggelar kegiatan konsolidasi, pemilihan dan pembentukan pengurus wilayah Kalimantan Barat. Kegiatan tersebut berlangsung dari Jumat sampai Sabtu (14-15/9/2012) yang dikoordinir oleh Barisan Pemuda Adat (BARA) AMAN Kalbar bertempat di rumah Betang Lingga, Sei Ambawang, Kubu Raya.

Hari itu, Jumat (14/9/2012), suasana di sekitar rumah Betang Lingga yang persis berada di lintas jalan trans Kalimantan tampak lain dari biasanya. Para kaum muda dan tua tampak kompak. Kehadiran mereka ditempat itu bukan untuk melaksanakan kegiatan gawai Dayak ataupun kegiatan lainnya. Namun hari itu rupanya ada pembukaan hajatan besar yang bertajuk pertemuan wilayah I Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), Kalimantan Barat.

Pertemuan tersebut merupakan kali pertama dalam sejarah barisan pemuda adat di Kalbar. Adapun tema dalam kegiatan itu “Peran Pemuda Adat Dalam Rencana Strategis Melestarikan Adat dan Budaya di Kalimantan Barat”. Tepat pukul, 09.00 Wib acara pembukaan pun dimulai. Sedianya acara tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Kubu Raya, Andreas Muhrotein. Namun, karena kesibukan menjalan tugas-tugas yang tidak bisa ditinggalkan, acara pembukaan pun digantikan oleh Abdi Akbar selaku Kepala Departemen Penguatan Organisasi Anggota dan Jaringan Strategis pengurus pusat BPAN.

Prosesi pembukaan pun diawali dengan penyambutan tamu undangan ketika akan memasuki kompleks rumah Betang Lingga. Tampak seorang kepala adat membacakan doa-doa seraya membaca mantra dan menaburkan beras kuning. Sambil mengoleskan kunyit ke dahi para tamu, sementara itu para penari dari Dayak Sanggar Muara Talino, dengan sigap beratraksi sambil berlenggak-lenggok. Jauh di rumah Betang sudah bergema musik dengan hentakannya yang merdu. Abdi Akbar pun didaulat untuk memotong sebatang tebu yang sudah dilintangkan di tengah jalan dengan sebilah Mandau. Dengan sekali tebasan “bless” putuslah sebatang tebu muda itu. Kemudian para rombongan pun diajak bersama-sama untuk memasuki rumah betang. Sementara di depannya para penari terus berlenggak lenggok dengan lemah gemulai.

Upacara tersebut dinamakan Bapipis, yakni upacara ritual penyambutan tamu khas dayak Kanayatn Ambawang. Setelah sampai di Betang dilanjutkan dengan upacara Nyangahatn oleh Timangkong sebagai pertanda supaya kegiatan tersebut berjalan dengan lancar tanpa gangguan dan kendala-kendala. Sebelum acara adat Nyangahatn dimulai dilakukan seremonial pembukaan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh para siswa/siswi SMA Katolik Talino, Sei Ambawang dengan diikuti oleh para hadirin. Yulidas selaku ketua panitia pelaksana mengatakan, sebelum kegiatan itu berlangsung pihaknya merasa pesimis bisa terlaksana dengan baik.

Namun berkat semangat dan kerja keras semua pihak akhirnya bisa berjalan dengan dengan lancar. “Awalnya saya pesimis acara ini akan terlaksana seperti ini,”kata Yulidas dalam sambutan pembukaannya.

Pada kesempatan itu juga semua pihak yang hadir diajak untuk mengheningkan cipta untuk mengenang tokoh AMAN dan juga pejuang masyarakat adat, Surjani Alloy. Menurut Gloria Sanen, kegiatan pertemuan pemuda adat wilayah Kalbar ini memang merupakan ide dan keinginan yang sudah lama dari almarhum Surjani Alloy selaku ketua BPH AMAN Kalbar.

”Pak Surjani Alloy sudah lama menyampaikan gagasan ini. Dan beliau ingin agar para pemuda adat semakin menguatkan solidaritas. Meskipun pada hari ini beliau sudah tidak lagi bersama-sama dengan kita, namun gagasan dan cita-cita beliau akhirnya bisa diwujudkan. Kita patut menghargai dan meneruskan perjuangan beliau,”ujar Gloria Sanen dalam sambutannya.

Sedangkan yang mewakili Ketua Umum BPAN, Abdi Akbar, menyambut baik dilaksanakannya kegiatan tersebut. Menurutnya sangat penting sekali menguatkan organisasi para pemuda adat di seluruh Nusantara. “Saya merasa bangga pada hari ini bisa datang di tengah-tengah para pemuda adat di wilayah Kalbar. Saya baru sekali ini datang ke tanah Borneo. Organisasi pemuda adat yang merupakan sayap AMAN merupakan bagian penting, guna mendukung dan memperjuangkan nasib masyarakat adat. Khususnya para pemuda adat,”ujarnya.

Ia pun mengapresiasi kerja keras para panitia dan AMAN Kalbar yang bisa menyelenggarakan acara pertemuan wilayah BPAN dengan lancar dan sempurna. Setelah selesai semua kata sambutan, kemudian dilakukan pemukulan Gong sebanyak tujuh kali oleh Abdi Akbar sebagai pertanda dimulainya kegiatan pertemuan wilayah I BPAN Kalbar. Setelah selesai acara pembukaan. Pada siangnya diadakan seminar setengah hari yang menghadirkan para narasumber, yakni Pelaksana Tugas (PLT) Badan Pengurus Harian (BPH) AMAN Kalbar Aga Pitus, Timangokng Binua Sunge Samak Sa’ena dan Timangokng Sunge Manur / Koala Mandor Adrianus Adam Tekot. Para peserta pertemuan BARA Kalbar berfose bersama rumah di Betang, Lingga-Kubu Raya.

Kegiatan seminar tersebut diiikuti oleh perwakilan dari komunitas pemuda adat seluruh daerah yang ada di Kalbar. Seperti Ngabang , Ambawang, Singkawang, Sekadau dan sejumlah perwakilan organisasi mahasiswa di Pontianak. Semua peserta yang hadir pun tampak antusias mengikuti acara tersebut. Sedangkan pada malam harinya, diadakan pertunjukkan seni tari dari sanggar Muara Talino dan paduan suara dari para siswa SMA Katolik Talino, Sei Ambawang. Tak ketinggalan pula disuguhkan dengan pemutaran film dokumenter tentang lingkungan. Warga sekitar pun berbondong-bondong untuk menyaksikan acara tersebut.

Di sekitar rumah Betang pun mendadak ramai baik tua maupun muda ingin bersama-sama ikut ambil bagian di dalamnya. Esoknya, Sabtu (15/9/2012) kegiatan acara inti berupa konsolidasi pertemuan wilayah I BPAN Kalbar pun dimulai. Tahapan pembahasan terhadap berbagai hal tentang keorganisasian pemuda adat pun dimulai, seperti pembahasan AD/ART, tata tertib sidang. Semua peserta yang hadir pun memberikan masukan dan saran terhadap segala peraturan yang menyangkut BPAN Kalbar ke depannya. Suasana pun menjadi alot dengan perdebatan-perdebatan. Setelah melalui proses pembahasan dan perdebatan yang sangat alot seharian, akhirnya pada sore harinya, tibalah kepada prosesi pemilihan siapa yang akan memimpin BPAN Kalbar mendatang? Sejumlah nama pun sempat diusulkan.

Akhirnya semua peserta secara aklamasi sepakat untuk memilih Yulidas dan Adrianus Suwandi. Masing-masing sebagai ketua dan wakil ketua BPAN AMAN Kalbar. Salah satu program kerja Yulidas ke depannya, yakni akan merangkul seluruh elemen masyarakat adat untuk semakin mencintai terhadap adat dan tradisi budaya dan akan berprinsip dan berpegang teguh kepada UUD 1945 dan Pancasila dalam menjalankan tugas. “Ke depan kita coba rangkul pemuda adat dan masyarakat adat guna menumbuhkembangkan kecintaan, kepedulian dan mampu mengimplementasikan adat istiadat dan budaya di tengah-tengah modernisasi. Dan tetap memegang teguh UUD 1945 dan Pancasila karena jelas kita adalah warga Negara Indonesia,” kata Yulidas. Kini di pundak merekalah segala perjuangan dan cita-cita mulia para pemuda adat di Kalbar digantungkan harapan. Semoga tetap semangat dan terus berjuang. Proviciat dan selamat!

 

Yogi Pusa