Ritual Tiwah

Oleh Hantingan

 

Rabu 8 Juni 2016 – Masyarakat Adat Datah Poah (Cangkang) Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah tengah melaksanakan ritual adat memindahkan tulang –belulang manusia yang sudah lama meninggal untuk persiapan kegiatan Totoh/ Tiwah (ritual menghantar roh yang bersangkutan menuju lewu tatau/ surga).

Ritual adat ini memang sudah dilakukan oleh Suku Dayak Siang Murung yang beragama Hindu Kaharingan dari zaman nenek moyang terdahulu yang maknanya yaitu untuk memindahkan tulang tersebut dari peti jenazah lalu dipindahkan ke rumah berbentuk kecil atau yang biasa disebut dengan sandung.

Ritual  ini dilaksanakan oleh keluarga almarhum. Prosesi acaranya yaitu menggali kembali kuburan jenazah yang sudah lama dikubur, lalu membongkar peti jenazah tersebut dan mengumpulkan tulang-tulangnya untuk dibersihkan dan kemudian memasukkannya ke dalam sandung dengan keadaan bersih. Di dalam sandung tersebut sudah tersedia satu kain bahalai dan satu stel pakaian untuk alas tempat tulang-tulang tersebut.

Untuk melakukan ritual ini tidak bisa sembarangan. Dalam ritual ini harus ada yang namanya basi/ basir sebagai pemimpin ritualnya. Selain itu juga harus disediakan babi dan ayam sebagai konsumsi semua orang yang melaksanakan ritual tersebut maupun tamu undangan.

Ingat 1 Juni, BPAN Nusa Bunga Gelar Diskusi tentang Pancasila

Jakarta (4/6/2016)—Bertepatan 1 Juni hari kelahiran Pancasila, Barisan Pemuda Adat Nusantara Wilayah Nusa Bunga menyelenggarakan diskusi dengan tema “Pemuda Adat dan Pancasila dalam Bingkai NKRI” untuk menjadi bekal pemuda dalam membangun kampung serta menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, di Kampus Stipar Ende Rabu (1 Juni) lalu.

“Hari ini, kita mengenang hari kelahiran Pancasila, 1 Juni yang sudah berusia 71 tahun. Sudah tujuh dekade republik ini berdiri. Selama itu pula, Pancasila tampil sebagai nilai penjaga keutuhan negara. Tak bisa dipungkiri, Republik Indonesia masih berdiri hingga hari ini berkat Pancasila juga. Namun, Pancasila dihadirkan bukan hanya sebagai alat pemersatu, tetapi juga sebagai dasar negara sekaligus penunjuk jalan bagi bangsa ini menuju masyarakat adil dan makmur,” beber Jhuan Mari dari AMAN.

Di sela-sela diskusi, peserta yang hadir mengutarakan bahwa Pancasila harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pancasila adalah dasar dan filosofi negara yang kepadanya seluruh rakyat Indonesia berpijak. Berpijak di sini  bukan cuma dihayati dan elus-elus, namun harus dipraktikkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Kita, Barisan Pemuda Adat Nusantara bukan hanya memahami secara teori semata apa itu pancasila, namun kita perlu membangun kecerdasan dalam berpijak  dan melihat ketertindasan masyarakat adat di Indonesia,” kata Ketua BPAN Kans.

Menurutnya masyarakat adat di Indonesia mengalami ketertindasan akibat kebijakan di negara ini yang tidak menjalankan nilai-nilai Pancasila. Bahkan di luar dari sila-sila yang ada dalam Pancasila itu sendiri. Sebenarnya kalau dijalankan secara benar, hari ini masyarakat adat di Indonesia tidak mengalami ketertindasan dan diskriminasi.

Hal senada disampaikan Andre bahwa Pancasila adalah dasar negara. Menjadi dasar, tambahnya, semestinya pemangku kepentingan negara tidak melanggar dasar negara. Jika dalam pengelolaan bangsa ini tidak sesuai dengan Pancasila, maka sebenarnya mereka itulah yang mengkhianati dasar negara. Ambil contoh penggusuran, perampasan tanah masyarakat adat  secara sepihak oleh negara  dan penghilangan orang yang ingin memperjuangkan hidupnya.

Selain itu, salah seorang peserta diskusi menanyakan bagaimana peran pemuda khususnya pemuda adat untuk mengahayati dan menjalankan nilai-nilai Pancasila.

“Peran pemuda adat, ya harus pulang kampung membangun kecerdasan masyarakat adat akan hak-haknya, menjaga wilayah adatnya dan kembali menelusuri jejak leluhur sebagai bagian dari mengenal identidas diri kita,” tutur Kans.

Lebih lanjut dikatakannya, “Kita, pemuda harus melakukan sesuatu untuk membantu negara ini dalam mewujudkan cita-cita nasional yaitu masyarakat adil dan makmur. Kembali ke kampung dan mulailah dari kampung, di sanalah kita akan menemukan pembangunan nasional yang sesungguhnya.”

 

 

Media BPAN