Masyarakat Adat Punan Dulau: Hutan yang Bagai Air Susu Ibu (Bg 2)

oleh Angriawan dan Yosi Narti

 

Sejarah Asal Usul

Punan Dulau di Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara adalah sebuah komunitas adat yang menjadi bagian dari Suku Dayak. Luas wilayah adatnya mencapai 22,234 hektar. Ia berbatasan di sebelah utara dengan Desa Mendupo dan Seputuk KTT, sebelah selatan dengan Desa Ujang, timur dengan Desa Bambang, dan barat dengan Desa Mangkuasar di Kabupaten Malinau. Penduduknya berjumlah 70 kepala keluarga. Total keseluruhan sekitar 270 jiwa yang terdiri dari 148 laki-laki dan 122 perempuan.

tari_Dayak

Menurut cerita dari Kepala Provinsi Suku Dayak Punan Dulau, konon Suku Dayak Punan Dulau identik dinamakan Kelompok/Kampung/Tukung Punan. Dulau adalah nama sungai yang bermuara di Limbu. Limbu inilah yang dinamakan Lidung  Dulau, artinya tegilau yaitu air tidak tenang yang selalu berombak kecil. Dulu, Limbu menjadi tempat kelompok Punan yang tinggal di sungai dan berkebun/berladang di gunung-gunung dan perbukitan. Selain mengonsumsi orok nyifung sebagai makanan pokok yang tumbuh di hutan, mereka sehari-hari juga memiliki sumber karbohidrat lain, seperti padai ladang, singkong, pisang, ubi rambat, dan tumbuhan lainnya yang ditanam di sekitar pegunungan.

Sejarah tentang terjadinya Desa Punan Dulau didapatkan dari cerita yang disampaikan oleh Bapak Bungei sebagai Kepala Provinsi Suku Dayak Punan Dulau.

Menurut catatan pada tahun 1870, Masyarakat Adat Punan Dulau terdata memiliki penduduk berjumlah 15 kepala keluarga atau 50 jiwa yang tinggal di permukiman yang dipenuhi dengan lamin-lamin (rumah panjang) di sepanjang alur Sungai Magong atau Meko di Gunung Jolok. Disebut jolok karena di sanalah terdapat kayu jolok yang dipakai menjadi tiang bagi rumah adat Suku Punan.

batas_desa

Pada saat itu, kepemimpinan Punan terbagi ke dalam dua pemimpin di dua wilayah, yaitu alur Sungai Magong atau Meko Kiri dipimpin oleh Aki Tawang dan alur Sungai Magong Kanan dipimpin oleh Aki Ukong tahun 1880-1926. Pergantian kepemimpinan pun lantas berganti seiring dengan berjalannya waktu. Para pemimpin Punan kemudian tidak lagi terpecah menjadi dua, tetapi hanya seorang untuk keseluruhan Punan. Secara berurutan, pemimpin-pemimpin yang pernah menjabat, antara lain Aki Ulok (1927-1850), Aki Lalang (1951-1959), Pembakal Ipah (1960-1969), Pembakal Ibas (1975), Pembakal Pigun (1976-1978), Kepala Desa Unjan (1979-1989), Kepala Desa Bungei (1990-2007), Kepala Desa Kaharuddin (2008-2013), dan Kepala Desa Johan Belun (2013-sekarang). Penamaan pada sebutan pemimpin-pemimpin juga mengalami perubahan, dari sebutan “aki,” berubah menjadi “pembakal,” dan sekarang menjadi “kepala desa.”

Pada tahun 1972, Masyarakat Adat Punan Dulau dipindahkan oleh Pemerintah Kabupaten Bulungan dari tempat asal mereka di hulu Sungai Magong ke sebuah kawasan permukiman di Desa Sekatak Buji. Hingga kini, Desa Punan Dulau masih berada di lokasi Desa Sekatak Buji. Pemindahan tersebut dilakukan dengan pertimbangan untuk kelancaran administrasi serta jangkauan atau akses terhadap pelayanan oleh pemerintah penghubung (kecamatan) di Tanjung Palas. Kini, warga Desa Punan Dulau terbagi ke dalam dua RT (RT 01 dan RT 02). Itulah mengapa jika sebelumnya – pada masa penjajahan Belanda dahulu – Desa Punan Dulau dipimpin oleh kapiten atau pembakal kepala suku, kini pemimpin desa menjadi lebih dikenal dengan sebutan kepala kampung atau kepala desa.

 

Masyarakat Adat Punan Dulau: Menemukan Keluarga Baru (Bg 1)

oleh Angriawan dan Yosi Narti

 

Kami teringat suatu perenungan ketika dalam perjalanan menuju Kalimantan Utara (Kaltara). Bahwa belajar itu tidak tergantung pada bangku sekolah, namun juga kita bisa belajar banyak hal di luar sekolah. Layaknya semua orang itu bisa jadi guru, maka setiap orang bisa jadi adalah sumber pengetahuan. Meski pula tidak selamanya guru selalu benar.

Perjalanan kami ke Kaltara kali ini, adalah mendatangi rumah Suku Dayak Punan Dulau. Tempat yang belum pernah kami kunjungi dan ketahui. Di tengah berbagai kekhawatiran, muncul juga suatu kebanggaan bahwa pada akhirnya kami akan dapat pengalaman untuk bisa belajar banyak hal secara langsung dari kehidupan Masyarakat Adat Punan Dulau yang berada di Desa Punan Dulau, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kaltara.

Kami menaiki taksi dari bandara menuju Pelabuhan Beringin yang membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Setelah sampai di pelabuhan, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal cepat dari Tarakan ke Sekatak. Mereka biasa menyebutnya dengan speed yang berkecepatan kira-kira 80 km/jam. Mungkin maksudnya adalah speed boat. Melalui speed, perjalanan ke Tarakan kami tempuh selama dua jam.

Tiba di Tarakan, ternyata kami sudah ditunggu oleh keluarga besar Pak Tahing dan warga Punan Dulau. Dengan perasaan senang karena sudah sampai di tempat tujuan, kami pun menaiki levu’ aru (rumah adat Punan yang juga sering disebut dan diartikan sebagai rumah panjang). Kami sebut naik, karena untuk masuk ke dalamnya, kami harus menapaki anak tangga. Kami cukup tertegun karena untuk pertama kalinya kami melihat dan merasakan berada di dalam rumah panjang. Kami di sambut secara adat dengan sajian sirih. Kami perlahan mulai mengambil sehelai daun sirih, kemudian mereka mengajarkan cara menyiapkan sirih yang dioleskan kapur dan bahan-bahan lainnya sebelum siap dilahap.

sirih

Sensasi memakan sirih menjadi pengalaman yang luar biasa bagi kami soal rasa yang tercipta di lidah ketika kami melahap dan mengunyahnya sampai halus. Ada rasa pedas, pahit, dan segala macam yang campur aduk dan sulit kami deskripsikan. Usai menyirih, baru kami berbicara tentang tujuan kedatangan ke Desa Punan Dulau.

Jika ada dari kita yang berpendapat bahwa masyarakat adat itu bodoh, primitif, dan miskin, ternyata itu adalah kesalahan besar. Ketika saya berinteraksi dengan mereka, justru kesan kebalikannya yang saya rasakan tentang mereka. Bahwa sesungguhnya masyarakat adat itu begitu baik, cerdas, dan bijaksana dalam berbudaya dan mengelola wilayah adat, baik dalam hal berladang maupun mengelola hutan adat.  Mereka tidak sembarang dalam berladang dan tidak asal menebang pohon di hutan. Ada serangkaian proses ritual adat yang panjang ketika mereka hendak berladang dan menebang pohon. Masyarakat adat masih memiliki kepercayaan dan memberikan hormat yang tinggi terhadap leluhur dan alam.

Ketika berbincang dengan mereka, saya diberitahu bahwa pesan yang disampaikan melalui ritual kepada leluhur dan alam, akan dapat mempengaruhi kesuksesan maupun kegagalan dalam segala aktivitas. Ada pemahaman tentang simbol-simbol yang terdapat di alam, seperti pada pohon dan kicau burung. Misalnya saja jika terdengar suara yang indah pada burung dari sebelah kanan, artinya adalah pertanda kebaikan. Sebaliknya, jika terdengar kicau burung yang terdengar sumbang dari sebelah kiri, itu menjadi pertanda buruk.

Masyarakat Adat Punan Dulau mempunyai prinsip hidup yang mereka sebut “hutan adalah air susu ibu.” Hutan telah menyediakan tumbuhan obat-obatan, bahan pakaian, lauk-pauk, dan segala kebutuhan hidup mereka. Masyarakat adat pun menggantungkan sumber penghidupan dari hasil hutan dan kekayaan alam sekitar. Tanpa hutan, maka Orang Punan tidak akan bisa bertahan hidup.

Selama bersama Orang Punan, saya merasa menjadi bagian dari keluarga. Asas kekeluargaan begitu kuat terlihat sebagai bagian dari tradisi yang dimiliki leluhur, salah satunya adalah pada saat penyelenggaraan upacara adat kematian. Tidak hanya Punan Dulau, tradisi tersebut juga dimiliki oleh hampir di seluruh Kabupaten Bulungan. Upacara adat tersebut ditandai dengan tarian dan pesta. Tradisi itulah yang menyatukan mereka dalam hubungan sosial dengan masyarakat lain. Meski meminum minuman beralkohol lokal, namun jangan dibayangkan akan ada orang-orang yang berbuat onar atau keributan. Justru suasana yang emosional semakin terbangun lebih dekat antar-desa. Mereka tertawa, bercerita, dan kita pun ikut minum bersama untuk menunjukan suatu tanda penghormatan. Minuman lokal yang mereka minum terbuat dari bahan alami yang mengandung alkohol, seperti umumnya disebut toak atau ciu. Mereka menyebutnya pengasih – terbuat dari fermentasi ubi kayu yang dicampur dengan lengkuas, daun papaya, dan daun pohon langsat yang dimasukkan ke dalam tempayan atau guci selama periode waktu tertentu. Selain upacara kematian, ada banyak lagi upacara adat yang dilakukan Masyarakat Adat Dayak Punan Dulau dengan kearifan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Selama 20 hari bersama Orang Punan, saya bersama kawan-kawan merasakan betul perhatian tulus yang mereka berikan. Bukan sekadar sebagai tamu, tetapi saya merasa di rumah dalam suasana kekaluargaan. Sungguh pengalaman yang tidak dapat saya lupakan. Begitu pun dengan mereka yang saya harap juga tak hendak melupakan saya dan kawan-kawan yang pernah tinggal sementara bersama mereka.

Sebelum saya dan kawan saya yang bernama Yosi tiba di Desa Punan Dulau, mereka telah dibertahu perihal kedatangan kami melalui komunikasi dengan handphone. Kami berkontak dengan Sri dan Denny yang tak lain adalah bagian dari BPAN dan AMAN di Kaltara. Mereka pun aktif membangun gerakan masyarakat adat di Desa Punan Dulau. Awalnya, itulah yang membuat saya merasa tenang dan dengan mudah menikmati keindahan alam selama perjalanan di sekitar wilayah adat Orang Punan.

Saya ingat kala itu. Setibanya di sana, kami disambut oleh masyarakat Desa Punan Dulau dengan acara adat di mana warga berkumpul di rumah panjang (limit). Kami tiba saat hari telah sore dan kondisi begitu lelah. Dengan penuh pengertian, dipersilakannya kami untuk beristirahat.

Esoknya, kami mulai melakukan observasi dan diskusi. Kami bertemu dan berkenalan dengan Pak Bungei, Kepala Masyararat Adat Suku Dayak Punan Dulau. Pengetahuan Pak Bungei yang begitu dalam tentang masyarakat adat di sana, membuat kami semakin penasaran dengan Desa Punan Dulau. Ternyata kami baru tahu kalau mereka tak lagi tinggal di wilayah adat leluhur mereka, melainkan wilayah Kecamatan Sekatak Buji.

Tempat yang kami tinggali kala itu bukanlah tempat awal Orang Punan Dulau. Mereka awalnya tinggal di dalam hutan, sebelum kemudian dipindahkan/dibuatkan permukiman baru. Tempat tinggal mereka sekarang pun memang tampak damai dan asri. Tapi ternyata damai itu cuma terlihat dari luar. Banyak warga tidak mempunyai pekerjaan. Tidak ada ladang tersedia karena pemerintah hanya memberi tanah di atas rumah yang didirikan. Ada pemikiran warga yang mengganggu jiwa: antara tetap tinggal di desa atau kembali lagi ke hutan dengan bermacam risiko. Jika mereka kembali ke hutan, anak-anak mereka mungkin tidak dapat melanjutkan sekolah (pendidikan formal). Tetapi jika mereka tetap di desa, tidak pula ada lahan yang menunjang keahlian mereka dalam berladang. Sedangkan setiap bahan untuk pangan sehari-hari kini harus menggunakan uang. Mereka pergi dari hutan pada tahun 1972, dan mereka masih tinggal jauh dari tanah adatnya sampai sekarang.

Pada saat itulah kami pikir permasalahan mungkin itu bisa jadi persoalan buat kami menjalani proses dan meraih tujuan kami. Selain sulit menggali pola hidup mereka yang sebenarnya (berdasarkan seni, agama/kepercayaan, dan budaya asli leluhur), kami tidak bisa melakukan pendokumentasian yang memperkuat cerita masyarakat adat melalui situs-situs sejarah peninggalan Masyarakat Adat Punan Dulau.

Kami pun melakukan musyawarah. Saya dan kawan-kawan memohon agar bisa diantar dan tinggal beberapa hari di wilayah mereka di hulu aliran Sungai Magong. Kami bersepakat untuk berada di sana selama empat hari saja.

Perjalanan tentu tidak mudah. Saya dan kawan-kawan harus menempuh jarak yang menghabiskan waktu sekitar lima jam. Kami menaiki apa yang sebut dengan ketinting didampingi oleh Aki Iwang, Pak Martin, Pak Sodianto, Ibu Sodianto, anak dari Sodianto, dan Sri. Medan dipenuhi dengan bebatuan besar dan tajam di sepanjang aliran sungai. Saya ekstra hati-hati. Tetapi jangan bayangkan saya berada dalam ketegangan yang mengerikan. Meski memerlukan kewaspadaan, tetapi letih seperti sirnah karena perjalanan yang diiringi dengan kicauan burung dan hembusan angin. Pepohonan rindang yang selalu menemani, membuat suasana tak terasa bosan sama sekali. Semuanya terbayar tuntas dengan keindahan panorama ibu pertiwi. Di sanalah kami berkesempatan melihat kuburan para leluhur.

Selama di hulu Sungai Magong, kami mendokumentasikan tempat permukiman lama, makam leluhur, tempat berburu binatang masyarakat adat di Sungai Keong, lokasi perladangan, dan mengenal obat-obat serta makanan masyarakat Punan Dulau.

Tentang makanan sehari-hari dan bagaimana cara mereka mendapatkannya, kami lihat sendiri ketika keesokan hari kami melihat Pak Sodianto yang bersama kami tiba-tiba bergegas pergi dengan parang yang menggantung di pinggang. Kami bertanya hendak ke manakah ia. Ia bilang kalau ia mau melihat pukat (jaring) dan pancing yang dipasang pada malam sebelumnya. Salah satu dari kami pun ikut dengan Pak Sodianto dengan semangat. Perkiraan kami, ikan yang ingin dijaring adalah ikan-ikan kecil yang mungkin seukuran lebar dua jari orang dewasa. Tetapi kami salah besar! Ikan yang dijaring dan dipancing ternyata sebesar lima jari orang dewasa. Dan pagi itu cukup banyak ikan didapatkan. Senyum sumringah terpancar dari raut wajah kami. Sungguh menyenangkan buat kami dapat melihat ikan-ikan besar dan segar yang mudah sekali didapat di sungai itu.

Hasil pancingan dan jaringan tersebut kami jadikan lauk sarapan. Setelah makan, kami pun pergi dengan ketinting lagi untuk menjelajahi tempat tinggal Orang Punan yang dulunya terpisah. Bukti wilayah adat mereka adalah pemakaman yang terdapat di beberapa tempat yang berjauhan. Di sanalah kami menyaksikan betul seperti apa hutan yang sesungguhnya begitu kaya: pepohonan besar dan rotan ada di mana-mana. Bukan hanya ikan yang didapat dengan gampang, tetapi juga ubi, buah, dan tanaman obat yang semuanya tersedia di hutan.

Temuan-temuan kami memperkuat pernyataan bahwa sebelum negara ini ada, sebelumnya telah sejak dulu masyarakat adat berkehidupan dengan aturan adat mereka sekaligus mengelola wilayah adat dengan lestari. Dengan pepohonan yang asri dan potensi sumber daya alam lainnya yang besar di wilayah adat, telah membangun kepercayaan diri Masyarakat Adat Punan Dulau untuk perlahan-lahan pindah kembali ke permukiman awal mereka di hulu sungai.

Dengan keramahtamahan warga Punan Dulau kepada kami, tentu terbersit rasa bersalah dengan pemikiran yang sempat terlintas sejak awal. Tentang stigma yang tidak benar tentang Orang Punan yang kerap dipandang sebagai orang-orang ganas. Kami sempat melihat pada sebuah tulisan pada halaman website menjelaskan bahwa Orang Punan itu memakan orang. Berita kosong itu sempat juga membuat nyali kami menciut pada awalnya. Namun, ternyata semuanya berbanding terbalik. Mereka sungguh termata ramah, baik, dan peduli pada sesama.

Keadaan yang mendorong kami untuk mengikuti pola-pola kehidupan masyarakat adat, sungguh tak terbayangkan, menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Saya belajar ada banyak perbedaan yang patut dihargai dan dihormati, seperti seni dan budaya. Saya merasakan persaudaraan yang kuat. Merekalah keluarga kami selama berada di Kaltara.

Sungguh menjadi tidak penting tentang apa yang terlihat, sebelum benar-benar dirasa. Mereka terlihat damai dengan bagunan yang kokoh, tapi hati teriris. Mereka butuh hutan rimbun sebagai tempat tiggal di mana hutan itu tetap terjaga secara adat yang terangkai secara dahsyat. Mereka pintar dengan hutan dan isinya. Mereka mampu bertahan hidup tanpa harus merusak sesuatu yang indah apa adanya. Betapa sesungguhnya masyarakat adat itu sudah hebat, kalau pun tanpa harus ada tangan pemerintah yang seolah menjadi super hero.

Ketika tiba waktunya kami kami harus berpamitan pulang, mereka pun mengadakan acara perpisahan dengan warga yang dilakukan satu hari satu malam secara adat. Kami memakai pakaian adat, menari, dan – tidak ketinggalan – meminum pengasih yang disusul dengan makan bersama. Betapa kami merasa orang yang sangat di hargai..

Terima kasih Bapak Tahing dan keluarga serta Masyarakat Adat Punan Dulau yang telah membuat kami melihat dan belajar tentang apa yang terjadi serta apa yang berarti. Kalian adalah orang-orang hebat. Kalian menjaga adat dengan sangat baik. Dan itu adalah hal yang paling berharga. Tetaplah berjuang demi leluhur dan kemakmuran. Kalian adalah guru yang sempurna. Semoga dilain waktu kita dapat berjumpa lagi.

 

Masyarakat Adat Nua Nea: Sistem Kelola Wilayah Adat (V)

Sumber kehidupan Masyarakat Maluku pada umumnya bergantung pada hasil hutan dan kebun. Dengan begitu mereka mengolah tanah dan mendapatkan hasil untuk kebutuhan konsumsi harian. Selain memainkan peran ekologis, hutan adat juga menyimpan potensi ekonomi dan sosial-budaya. Melalui hutan, masyarakat adat di Negeri Nua Nea melakukan interaksi-interaksi sosial dan ritual adat.

gotong royong_bangun rumah

Hutan memang terkesan lebih sering diakses oleh kaum lelaki mengingat aktivitas berburu (yahoku) hanya dilakukan oleh lelaki. Setiap marga mempunyai pantangan memakan dan memburu hewan-hewan tertentu. Tetapi bukan berarti hutan tertutup bagi perempuan. Di dalam Komunitas Nuaulu, perempuan memainkan peran strategis dalam tata kelola ladang/kebun. Selain itu, ada pula tradisi aumua, yaitu kegiatan mencari/menangkap ikan di sungai yang dikhususkan bagi kaum perempuan. Tata cara pengambilan ikan disebut saloi.

Istri Bapa Raja Marga Mattoke mengatakan, “Katong Hidop dari Hasil Kebong. Katong pu kebong luas, seng tau lae luas brapa.” (Kami hidup di sini bersumber dari hasil kebun. Kami punya kebun luas sekali, tidak tahu luasnya berapa.)

Beberapa tanaman yang bisa kita jumpai di kebun, antara lain pohon aren, kasbi (singkong), pisang, keladi, patatas (ubi jalar), kelapa, cokelat, pala, nangka, cempedak, langsat, durian, rambutan, pepaya, mangga, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan (kacang panjang, buncis, kacang hijau). Tanaman tersebut sangat berfungsi dalam keseharian warga karena hasil kebunlah yang menyuplai kehidupan warga sebagai sumber bahan pangan pokok (bukan nasi), seperti sagu (papeda), ubi, keladi, dan pisang. Meski tak selalu pasti menjadi makanan pokok, nasi kadang juga dikonsumsi masyarakat. Hanya marga Matoke yang tidak makan nasi. Sementara marga Nahatue tidak bisa makan kacang hijau. Ada pantangan sendiri di masing-masing marga mengenai pantangan-pantangan, termasuk larangan mengonsumsi makanan tertentu.

Dalam hal pengetahuan terkait tata kelola kebun, ada sebutan lokal bernama eunoinisie yang merujuk pada makna berkebun atau mengelola kebun secara tradisional dengan serangkaian tahapan seperti di bawah ini.

  1. Pertama yang dilakukan adalah ahunata, yaitu membersihkan atau membuka lahan dengan cara menebang pohon (rana’ai).
  2. Lalu membersihkan rumput-rumput liar atau disebut auneninisi dengan cara mencabut rumput dan menyapih akar-akar kecil menggunakan jari-jari, namun beberapa warga ada yang menggunakan teknik semprot monota yang artinya semprot rumput.
  3. Setelah membersihkan rumput dan memotong dahan-dahan pohon, dilanjutkan dengan mencangkul dengan teknik memutar.
  4. Kemudian dua sampai tiga hari, kembali ke kebun untuk menanam bibit tanaman kebun. Biasanya yang ditanam di kebun untuk tanaman umur pendek, meliputi jagung (yakong), tomat (tamate), dan lainnya.
  5. Proses panen disebut

 

Beberapa inae (sebutan untuk ibu) atau perempuan adat di negeri Nua Nea menyinggung soal peristiwa kebakaran hutan dan lahan beberapa bulan kemarin di wilayah adat mereka. Kebakaran lahan dalam bahasa Nuaulu disebut usa reinuna aikuna. 

 

Seng tau lae!” Yang artinya “Entahlah tidak tahu,“ ujar inae-inae di kebun ketika ditanya apakah kebakaran kemarin disebabkan oleh kemarau panjang semata atau sengaja dibakar orang/pihak yang tidak bertanggung jawab. Kebakaran menyebabkan sebagian ladang/kebun gagal panen. Tanaman kebun ada pula yang ikut terbakar, sehingga tidak dapat dikonsumsi.

Masyarakat Adat Nuaulu melihat hutan tidak hanya sebagai sumber kehidupan. Hutan adalah warisan leluhur untuk dititipkan kepada anak-cucu mendatang. Bukan hanya hutan dengan fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial-budayanya saja, tetapi di dalam hutan ikut tersimpan situs-situs dan ritual adat yang keberlangsungannya bergantung pada pelestarian hutan.

Syahadatul Khair

Masyarakat Adat Nua Nea: Wilayah Adat (IV)

Letak geografis negeri Nua Nea terletak di bagian utara Kota Masohi, ibukota dari Kabupaten Maluku Tengah. Negeri ini berada di dataran tinggi sekaligus pesisir. Nua Nea dapat ditempuh dari Masohi sekitar 45 menit dengan kendaraan bermotor sejauh kira-kira 17 kilometer. Permukiman penduduknya seluas 2 km. Batas-batas wilayah adat atau petuanan-nya, antara lain:

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Negeri Horale dan Sawai.
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Negeri Ruta, Amahi, Haruru, dan Makariki.
  3. Sebelah Timur berbatasan dengan Negeri Haya.
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan Negeri Waraka.

Saat ini jumlah luasan wilayah adat Negeri Nua Nea masih belum diketahui, namun Masyarakat Adat Nuaulu telah memiliki batas-batas alam (penanda) yang sangat jelas di setiap penjuru mata angin, seperti sungai, pohon, hutan, dan danau (suanaru).

Keseharian masyarakat di Nua Nea menggantungkan sumber penghidupannya dari hasil hutan, kebun/ladang, dan laut. Sebagian besar dari mereka bermata pencaharian sebagai petani, peladang, pekebun, pemburu, nelayan, peramu, dan sebagian adalah wiraswasta dan pedagang. Berburu masih menjadi tradisi yang dikhususkan bagi kaum laki-laki. Beberapa hasil buruan, yaitu kus-kus, elang, babi hutan, ayam, rusa, kelelawar, ular, dan binatang hutan lainnya. Meski wilayah hutan adat belum diketahui berapa luasannya, namun masyarakat Nuaulu mengetahui dengan jelas batas-batas yang telah dibuat leluhur mereka. Hasil hutan yang mereka peroleh, yaitu cengkeh, kayu hutan, getah damar, durian, biji kenari, bambu, dan berbagai pohon kayu dan buah lainnya.

Masyarakat Negeri Nua Nea masih terus berjuang hingga kini. Tidak ada hak dan kebebasan untuk memilih karena mereka dianggap tidak punya agama atau kepercayaan yang diakui oleh negara. Bahkan, pemerintah pun belum mengakui keberadaan wilayah adat mereka.

“Tidak ada kebebasan untuk mencantumkan agama kami. Agama luar saja bisa diakui. Kita yang agama Indonesia asli tidak diakui,” ujar seorang warga Nua Nea dengan nada tegas.

Konflik adalah pengalaman yang pernah terjadi dan telah berlalu. Dulu terjadi suatu kerusuhan di negeri Nua Nea yang menyebabkan banyak murid sekolah yang pindah ke negeri Sepa. Melewati gunung dengan jarak tempuh sekitar lima jam. Dampaknya kemudian banyak murid yang putus sekolah akibat kerusuhan tersebut.

“Sebelum kerusuhan, kami sekolah di Nuaulu. Namun setelah kerusuhan, kami langsung pindah ke Sepa. Setelah kerusuhan, (kami) jalan kaki lewat gunung dari sini ke Sepa berjalan 4 sampai 5 jam. Tidak istirahat sama sekali melewati gunung. Ada sekitar 20 km-an dari kampung Nuanea. Kalau dari kampung yang lain, langsung putus sekolah. Setelah kuliah pakai celana panjang. Setelah lulus, saya pakai kain sarung. Yang sudah menikah dibedakan dengan kain sarung. Ini biasa di kampung, jadi sekarang kita ke Masohi ada kegiatan, mereka sudah pakai kain sarung. Kenapa harus dibilang, kemarin-kemarin kan sudah tahu ada Orang Nuaulu di sekitar kita. Tradisi di sini yang sudah menikah menggunakan kain sarung. Kita tidak ikut sarung. Tidak dipaksa karena mengikuti agama Hindu. Kalau kita pakai celana panjang biar kita berteriak ‘Aku Orang Nuaulu!’ orang-orang tidak akan melihat kita. Jika orang melihat kita pakai sarung, mereka bisa tahu kalau ada orang lain di sini dengan identitas Nuaulu,” cerita seorang perempuan yang menjadi saksi kerusuhan sekaligus mengungkapkan bagaimana identitas Masyarakat Adat saat ini di sana.

Syahadatul Khair

Masyarakat Adat Talang Mamak Usir PT Runggu

Jakarta (20/02/2016)-Masyarakat Adat Talang Mamak menggelar aksi besar-besaran di Hulu Cenaku guna mempertahankan wilayah adatnya. PT Runggu, sebuah perusahaan sawit perusak hutan, kembali beroperasi di tanah adat mereka.

Ratusan anggota Masyarakat Adat Talang Mamak turun langsung mulai dari kebatinan, pemuda sampai perempuan. Mereka mengamankan dua buldozer milik perusahaan.

“Kita aksi untuk mendesak perusahaan agar meninggalkan wilayah adat kita,” kata Aan Pardinata, anggota BPAN Inhu saat dihubungi, Sabtu (20/2).

Perusahaan tak berizin itu melanggar perjanjian yang sebelumnya telah ditandatangani dengan Masyarakat Adat Talang Mamak. Sekitar lima bulan lalu, perusahaan dan masyarakat membuat perjanjian agar segala aktivitas dihentikan di lahan sampai kejelasan batas wilayah adat dengan konsesi, terang.

“Mereka melanggar surat perjanjian yang ditandatangani dengan materai lima bulan yang lalu,” terang Aan.

Abu Sanar, Ketua PD AMAN Inhu bersama para dubalang/batin Talang Mamak memimpin aksi sepanjang hari.

Selain mempertahankan wilayah adat secara umum, Masyarakat Adat Talang Mamak juga memperjuangkan sungai yang menjadi sumber air bagi 20 desa yang membutuhkan. Sungai yang berada di hutan adat Talang Mamak terancam kering jika perusahaan meneruskan aktivitas mereka menebangi pohon di hutan. Masyarakat Adat berpenduduk 20.000 jiwa itu bisa kehilangan air di tengah-tengah hutan.

“Perusahaan merusak hutan di hulu yang menyediakan air bagi kita, masyarakat berpenduduk 20.000 jiwa,” tambahnya.

Saat ini dua alat berat tengah diamankan sebagai barang bukti, dan aksi masih akan berlanjut besok.

[Jakob Siringoringo]