Heli Pemadam Ladang

Resah, kecewa dan marah. Perasaan ini yang terpaksa harus dialami sejumlah warga ketika berkenalan dengan Si Heli yang dengan angkuhnya datang menumpahkan air kala mereka melakukan cara bakar membersihkan ladangnya.

Arina Enda dan Lina, dua di antara warga pemilik ladang yang turut menjadi korban kegagahan Si Heli pemadam ladang itu berkisah kepada penulis tentang peristiwa menyedihkan kala itu.

Arina Enda
Arina Enda

Enda, warga dusun Bawas di kabupaten Kubu Raya mengaku sangat hati-hati. Terlebih dulu dirinya memberi kabar kepada pengurus desa dan bahkan juga mengabarkan rencana membersihkan ladang dengan cara bakar pada pihak perusahaan perkebunan yang berada di sekitarnya.

Hari itu, Rabu 7 September 2016. Enda bersama keluarga berangkat dari rumah pukul 15.30 wib menuju ladang. Sejumlah warga dan keluarga diajak untuk turut serta membakar ladang agar lebih terkendali. Ia juga membawa peralatan untuk membantu kelancaran proses pembersihan ladangnya.

Ketika tiba waktunya membakar, ia lebih dulu menyiram sekeliling ladang yang telah dibuat sekat bakar yang dalam istilah setempat disebut nataki'. Setelah itu, api di ladang pun dinyalakan.

Baru sekitar 15 menit api menyala, Si Heli sang pemadam datang tak diundang. Juru mudi Heli pun tak sempat berkenalan, apalagi menyapa Enda yang empunya ladang. Dengan gagahnya, air ditumpahkan dan api yang saat itu menyala lantas padam. Byuuuur.

Menyaksikan atraksi Si Heli yang langka itu, sejumlah warga yang melintasi jalan Trans Kalimantan berkerumun. Si Heli seakan jadi tontonan penghibur. Ada yang melambaikan tangan dan ada pula yang mengabadikan gambar atraksi Si Heli. Padahal di balik peristiwa bom air yang dijatuhkan, Enda si pemilik ladang tertegun sedih. Diam tak bisa berbuat apa-apa. Ia pasrah sambil menahan rasa perih di dada.

Heli pemadam ladang itu berkali-kali menyiramkan air di ladang milik Enda. Hingga usai melakukan misinya, sang juru mudi Heli tak juga menyapa Enda untuk sekedar menyampaikan permisi dan terima kasih. Apalagi kata maaf.

Dalam rasa sedih dan kecewa, ibu empat anak itu pasrah menerima kenyataan yang baru dialami. Semenjak berladang, baru kali ini menerima kenyataan pahit. Ia hanya menyimpan rasa sedih, tidak tahu harus marah kepada siapa.

Heli BPBD
Helikopter BPBD

Seperti Enda, Lina juga merasakan hal yang sama ketika ladangnya disiram si Heli saat dibersihkan dengan cara bakar. Warga kampung Lingga Dalam di Kubu Raya itu pun turut merasa kecewa atas kejadian yang dialami. Ladang yang dibakar dengan sangat hati-hati yang melibatkan sejumlah warga lainnya malah disiram. Ia pun tak tahu harus berbuat apa selain merasakan kecewa dan pasrah.

Si Heli ternyata bukan hanya mahir menyiram ladang yang sedang dibersihkan dengan cara bakar. Namun juga pandai menjatuhkan bom air pada kegiatan warga yang sedang membakar kopra kelapa. Oki adalah satu dari warga yang memgalami kasus tersebut. Warga yang juga berasal dari kabupaten yang sama dengan Enda dan Lina itu, mengaku kecewa.

"Saya punya masalah pemadaman api kemarin. Saya kecewa sekali karena saya membakar kopra kelapa juga disiram pake helikopter," jelasnya melalui pesan singkat.

Si Heli ternyata memang hebat. Karena ia bukan hanya telah menjatuhkan air serampangan pada sejumlah lokasi yang sebetulnya tidak perlu. Namun yang lebih hebat adalah sejumlah orang/pihak di balik Heli pemadam kebakaran. Kehebatannya, mereka tega untuk melakukan langkah serampangan itu dengan sangat sadar.

Bagi Enda, Lina, Oki dan masyarakat peladang lainnya, saya salut dengan kesabaran kalian. Sabar karena tindakan pemadaman tak diundang ketika Anda sedang bersihkan ladang atau juga sedang membakar kopra itu, tidak membuat amarah memuncak menjadi sebuah tindakan pembelaan diri.

Tetapi saya percaya. Bila Si Heli terus-menerus melakukan aksinya, rasa kecewa dan sedih yang Anda semua alami akan sampai pada puncaknya. Pada situasi ini, sepertinya Si Heli dan orang/pihak di belakangnya baru akan sadar bahwa tindakan pemadaman yang dilakukan menyalahi etika yang dianut komunitas. Pada situasi ini mungkin mereka baru akan sadar bahwa tindakan pemadaman serampangan telah melukai hati dan perasaan rakyatnya sendiri.

 

[Hendrikus Adam]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *