Menelusuri Jejak Leluhur: Pusaka dari Payang #2

 

Sistem Pengelolaan Wilayah Adat

 

Membuka hutan untuk berladang

Menanam padi merupakan suatu rutinitas yang sudah dilakukan oleh masyarakat adat yang ada di komunitas adat Payang Kecamatan Gunung Purei. Artinya, ketika menanam padi, masyarakat adat harus membuka hutan dengan menggunakan kearifan lokal yang mereka yakini sejak turun-temurun. Seperti misalnya membuka hutan dengan menggunakan metode tradisional.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan ketika membuka hutan untuk dijadikan ladang bagi masyarakat adat Payang yaitu:

(a) Ngerang La’ang (mencari tanah untuk tempat berladang)

Dalam proses mencari tanah sebagai tempat berladang ini masyarakat adat membersihkan tanah selama empat hari, setelah proses pembersihan selesai baru masyarakat mengenali tanda dari bunyi burung Mentit. Kalau bunyi burung Mentitnya hanya sekali, maka tanah tersebut tidak baik untuk dijadikan ladang, tapi kalau bunyinya lebih dari tiga kali maka tanah tersebut bagus untuk tempat berladang. Setelah proses Ngerang La’ang selesai maka masyarakat adat setempat melakukan ritual “makan baya” yaitu ritual adat untuk meminta keselamatan dari leluhur.

(b) Nokap (menebas ladang)

Menebas ladang atau membersihkan ladang ini dilakukan oleh masyarakat setempat secara gotong royong.

(c) Noweng (menebang pohon-pohon besar)

Dalam proses ini, masyarakat menebang pohon yang besar supaya lebih bersih setelah menebas.

(d) Oing Joa (mengeringkan lahan yang sudah ditebas dan ditebang)

Oing Joa ini adalah proses di mana hutan yang sudah ditebas dan ditebang, harus didiamkan lagi supaya kering. Proses ini memakan waktu 30-40 hari.

(e) Nyuru (membakar ladang)

Dalam proses membakar ladang ini ada beberapa ritual adat yang dilakukan oleh masyarakat Payang, yaitu masyarakat mengambil cabai kemudian dijemurkan di atas tanah, bersamaan dengan itu masyarakat mengukir gambar burung elang di atas tampi kemudian digantung dengan menggunakan pohon bambu. Tujuannya untuk mengukur seberapa panasnya matahari dan seberapa kencangnya hembusan angin supaya proses pembakaran ladang tersebut bisa benar-benar terbakar sesuai dengan harapan masyarakat. Setelah ritual ini dilakukan, maka masyarakat sudah bisa membakar ladang mereka.

(f) Menuk (membersihkan bekas pembakaran ladang)

Setelah ladang dibakar, maka ladang tersebut dibersihkan dari sisa-sisa kayu yang tidak terbakar ataupun yang sudah terbakar namun berserakan, supaya masyarakat bisa menanam padi dengan mudah.

(g) Ngasek (manugal/menanam padi)

Menanam padi merupakan proses di mana tanah yang dilobangi menggunakan kayu (tugal), kemudian padi ditabur di dalam lobang tersebut. Proses ini biasanya dilakukan oleh masyarakat secara gotong royong. Memang sudah menjadi tradisi masyarakat bahwa pekerjaan seberat apa pun kalau dilakukan secara bersama-sama, maka akan terasa ringan.

(h) Ngerikut (merumput)

Setelah porses menanam padi selesai, maka ladang akan dibiarkan selama satu bulan, kemudian ladang tersebut dibersihkan dari rumput-rumput yang mengelilingi tanaman padi. Biasanya merumput ini dilakukan selama tiga bulan sambil menunggu padinya masak.

(i) Ngoteu (panen padi)

Setelah padi masak, maka masyarakat siap untuk memanen padi tersebut. Namun sebelum panen, masyarakat biasanya melakukan ritual adat yang dinamakan Sensotik. Sensotik adalah sebuah ritual adat yang dilakukan oleh masyarakat melewati tetua adat di mana dalam prosesnya ini masyarakat berkumpul untuk mengucap syukur dengan hasil panen yang akan dihadapi. Setelah ritual ini selesai, setelahnya masyarakat bisa memanen padi.

 

Mengambil Hasil Hutan

Rotan merupakan komoditi unggulan yang dimiliki oleh komunitas Payang setelah karet, dari rotan masyarakat adat khususnya ibu-ibu bisa membuat anyam-anyaman tradisional kemudian dijual demi membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga.

Dalam mengelola wilayah adatnya, komunitas yang ada di Kecamatan Gunung Purei Kabupaten Barito Utara masih menggunakan kearifan lokal mereka ketika membuka hutan untuk dijadikan sebagai ladang. Walaupun dengan cara membakar, namun mereka punya teknik tersendiri agar proses pembakaran ladang tidak merembet ke tempat lain.

“Kami dari dulu memang sudah membakar ketika membuka hutan, dan kami punya cara untuk membakar ladang kami. Misalnya kami membuat sekat bakar seperti membersihkan sekeliling ladang, dan kami melakukannya dengan gotong royong. Jadi kalau apinya sudah mulai masuk ke tempat lain, kami bersama-sama untuk memadamkannya,” kata Talius.

Kesyadi Antang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *