Masyarakat Adat Nua Nea: Wilayah Adat (IV)

Letak geografis negeri Nua Nea terletak di bagian utara Kota Masohi, ibukota dari Kabupaten Maluku Tengah. Negeri ini berada di dataran tinggi sekaligus pesisir. Nua Nea dapat ditempuh dari Masohi sekitar 45 menit dengan kendaraan bermotor sejauh kira-kira 17 kilometer. Permukiman penduduknya seluas 2 km. Batas-batas wilayah adat atau petuanan-nya, antara lain:

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Negeri Horale dan Sawai.
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Negeri Ruta, Amahi, Haruru, dan Makariki.
  3. Sebelah Timur berbatasan dengan Negeri Haya.
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan Negeri Waraka.

Saat ini jumlah luasan wilayah adat Negeri Nua Nea masih belum diketahui, namun Masyarakat Adat Nuaulu telah memiliki batas-batas alam (penanda) yang sangat jelas di setiap penjuru mata angin, seperti sungai, pohon, hutan, dan danau (suanaru).

Keseharian masyarakat di Nua Nea menggantungkan sumber penghidupannya dari hasil hutan, kebun/ladang, dan laut. Sebagian besar dari mereka bermata pencaharian sebagai petani, peladang, pekebun, pemburu, nelayan, peramu, dan sebagian adalah wiraswasta dan pedagang. Berburu masih menjadi tradisi yang dikhususkan bagi kaum laki-laki. Beberapa hasil buruan, yaitu kus-kus, elang, babi hutan, ayam, rusa, kelelawar, ular, dan binatang hutan lainnya. Meski wilayah hutan adat belum diketahui berapa luasannya, namun masyarakat Nuaulu mengetahui dengan jelas batas-batas yang telah dibuat leluhur mereka. Hasil hutan yang mereka peroleh, yaitu cengkeh, kayu hutan, getah damar, durian, biji kenari, bambu, dan berbagai pohon kayu dan buah lainnya.

Masyarakat Negeri Nua Nea masih terus berjuang hingga kini. Tidak ada hak dan kebebasan untuk memilih karena mereka dianggap tidak punya agama atau kepercayaan yang diakui oleh negara. Bahkan, pemerintah pun belum mengakui keberadaan wilayah adat mereka.

“Tidak ada kebebasan untuk mencantumkan agama kami. Agama luar saja bisa diakui. Kita yang agama Indonesia asli tidak diakui,” ujar seorang warga Nua Nea dengan nada tegas.

Konflik adalah pengalaman yang pernah terjadi dan telah berlalu. Dulu terjadi suatu kerusuhan di negeri Nua Nea yang menyebabkan banyak murid sekolah yang pindah ke negeri Sepa. Melewati gunung dengan jarak tempuh sekitar lima jam. Dampaknya kemudian banyak murid yang putus sekolah akibat kerusuhan tersebut.

“Sebelum kerusuhan, kami sekolah di Nuaulu. Namun setelah kerusuhan, kami langsung pindah ke Sepa. Setelah kerusuhan, (kami) jalan kaki lewat gunung dari sini ke Sepa berjalan 4 sampai 5 jam. Tidak istirahat sama sekali melewati gunung. Ada sekitar 20 km-an dari kampung Nuanea. Kalau dari kampung yang lain, langsung putus sekolah. Setelah kuliah pakai celana panjang. Setelah lulus, saya pakai kain sarung. Yang sudah menikah dibedakan dengan kain sarung. Ini biasa di kampung, jadi sekarang kita ke Masohi ada kegiatan, mereka sudah pakai kain sarung. Kenapa harus dibilang, kemarin-kemarin kan sudah tahu ada Orang Nuaulu di sekitar kita. Tradisi di sini yang sudah menikah menggunakan kain sarung. Kita tidak ikut sarung. Tidak dipaksa karena mengikuti agama Hindu. Kalau kita pakai celana panjang biar kita berteriak ‘Aku Orang Nuaulu!’ orang-orang tidak akan melihat kita. Jika orang melihat kita pakai sarung, mereka bisa tahu kalau ada orang lain di sini dengan identitas Nuaulu,” cerita seorang perempuan yang menjadi saksi kerusuhan sekaligus mengungkapkan bagaimana identitas Masyarakat Adat saat ini di sana.

Syahadatul Khair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *