Masyarakat Adat Rimba: Wilayah Adat (Part IV)

Berdasar teritori sungai, luasan wilayah hidup adat Suku Anak Rimba Bukit Duabelas dihitung sesuai dengan luas hutan. Dari Air hitam ke Kedasung sampai Mengkekal, hutan yang utuh hingga sekarang adalah 59.000 ha – sebelumnya seluas 60.500 ha – sekaligus menjadi tempat pengembaraan Suku Anak Rimba. Sebelah utara dibatasi dengan anak Sungai Tabir, selatan dengan Sungai Air Hitam, timur dengan Sungai Kedasung, dan barat dengan Sungai Mengkekal. Mengkekal, Ai’ban, dan Kedasung adalah anak Sungai Tabir, sedangkan Air Hitam adalah anak Sungai Tembesi.

Kawasan hutan Bukit Duabelas termasuk areal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tahun 1985. Di tahun 1999 statusnya berubah cagar alam dan tahun 2000 menjadi taman nasional dengan nama Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Ditetapkannya Hutan Bukit Duabelas sebagai taman nasioanal merupakan niat baik dan wujud perlindungan pemerintah terhadap Orang Rimba yang telah menjadikan kawasan ini (seharusnya tetap) sebagai pusat kebudayaan dan penghidupan di mana adat dan kebiasaan masyarakat adat masih utuh dan tetap terjaga.

TNBD memiliki topografi datar dengan dua belas bukit yang bagai bergelombang. Orang Rimba mempunyai pemaknaan khusus terhadap setiap bukit dengan memberikan mereka nama-nama yang indah. Kedua belas bukit tersebut, antara lain Bukit Bernyanyi, Bukit Panggang, Bukit Kuran, Bukit Teregang, Bukit Punai Banyak, Bukit Suban, Bukit Tiga Beradik, Bukit Benteng, Bukit Betempo, Bukit Penyeding, Bukit Beton, dan Bukit Enau. Bukit Duabelas berada pada rentan ketinggian 50 sampai 450 mdpl dan dihuni oleh sekitar 1.560 kepala keluarga.

Terdapat kurang lebih 120 jenis tumbuhan, termasuk jenis cendawan yang tumbuh di Bukit Duabelas. Tumenggung Betaring yang paham betul tentang kondisi alam dan kekayaan flora di Bukit Duabelas memberitahu apa saja yang bisa dengan mudah ditemukan di sini. Sebagian nama pohon maupun buah yang disebutkannya terdengar asing karena menggunakan nama lokal, antara lain karet, rotan, menggeris, keruing, jernang, meranti, sialang, dan singoris. Sedangkan tumbuhan berbuah, meliputi durian, duku, rambutan, cempedak, siabuk, rinam, rambai, kudu biawak, dan salak hutan. Kekayaan fauna juga tidak kalah banyak. Hutan ini adalah rumah bagi berbagai hewan langka, seperti siamang, beruk, kancil, rusa, kelinci, kukang, harimau, kijang, gajah, ayam hutan, ular, biawak, beragam jenis burung seperti elang, dan banyak lagi.

Ada beberapa jenis tumbuhan yang dimanfatkan oleh Orang Rimba sebagai sumber obat bagi penyakit-penyakit, yaitu akar sempalang, peleku muncang, kerketas, dan akar jelatang untuk sakit perut; akar setolu, daun rambutan, daun durian, dan tebu pungguk untuk demam; kayu salung untuk luka atau koreng; daun tampui nasi dan daun nango untuk gatal; kayu salo’, akar ubor, dan kayu kelebu gaja untuk obat anak bayi; akar kapak untuk obat sakit gigi; umbut rotan semambu dan sarang angkut untuk bisul; tumbuhan penyengah untuk lemah sahwat; dan akar kopu untuk pelembut rambut. Daerah tempat tumbuh tanaman-tanaman obat ditetapkan mereka sebagai hutan larangan. Artinya, tidak dibolehkan siapa pun untuk membuka lahan perladang. Namun sayangnya, menurut Nuntut, seorang Debalang Batin di wilayah Kedasung, hutan itu kini telah menjadi lahan masyarakat luar.

Selain kekayaan ragam flora dan fauna, kawasan hutan juga memiliki potensi wisata yang besar dengan hadirnya air terjun, air panas, dan Benteng Bukit Duabelas yang menjadi saksi fisik sejarah keberadaan Suku Anak Rimba.

-Ali Syamsul-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *