Masyarakat Adat Rimba: Hutan Sebagai Rumah (Part II)

Sejarah Asal-Usul

Setidaknya terdapat 51 kepala keluarga Masyarakat Adat Suku Anak Rimba atau juga biasa disebut Orang Rimba yang bermukim di Kampung Ujung Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sorolangun, Provinsi Jambi. Tiga kelompok Orang Rimba dalam wilayah Bukit Duabelas, yaitu Kelompok Air Hitam, Kedasung, dan Mengkekal. Suku Anak Rimba melekat kepada kelompok ini karena tempat tinggal mereka di dalam hutan. Hutan adalah rumah, rumah adalah hutan, begitulah kira-kira makna yang tak bisa dipisahkan antara rumah dan hutan. Mereka menghabiskan kehidupan sehari-hari di hutan dan menggantungkan sumber kehidupan sehari-hari dari hutan. Ada alasan bagi mereka untuk tetap bernaung di hutan dan tidak melebur dengan orang-orang di luar hutan. Orang Rimba bercakap dengan bahasa mereka sendiri: bahasa Rimba.

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar penamaan lain terhadap Orang Rimba. Masyarakat yang berada di luar hutan di sekitar Bukit Duabelas kerap menyebut mereka dengan Kubu. Kubu sebetulnya adalah penamaan yang tidak tepat dan cenderung menyudutkan masyarakat adat. Kata “kubu” sendiri mempunyai arti yang mengejek dan berasosiasi dengan sesuatu yang primitif, kotor, bau, jorok, dan tidak tahu sopan santun. Stigma yang kerap dilekatkan pada Orang Rimba yang sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Orang Rimba sendiri pantas untuk marah dan enggan disebut Kubu.

Tumenggung Betaring, pemimpin tertinggi Suku Anak Rimba Bukit Duabelas, menyatakan bahwa “Menyebut kami dengan Kubu, sama saja dengan kata makian ‘anjing kau!’ Maksudnya adalah menyamakan Orang Rimba dengan binatang.” Pada masa kolonial, nama itu sudah ada sebagai sebutan kepada orang yang masuk ke dalam hutan karena tidak ingin terjajah, lalu membuat kubu pertahanan di Bukit Duabelas.

Suku Anak Rimba dalam sejarah leluhurnya mempunyai beberapa versi. Menurut Tumenggung Betaring dalam versi cerita, leluhur mereka bernama Datuk Munyang Segayo adalah keturunan Datuk Minangkabau. Generasi di bawah Datuk Munyang Segayo, Datuk Rail dan yang sekarang Tumenggung Betaring sendiri. Akan tetapi dalam penuturannya juga dikatakan bahwa Datuk Munyang Segayo bukan orang yang pertama mendiami rimba di Bukit Duabelas karena berabad-abad sebelumnya kehidupan rimba sudah ada. Dalam versi lain sejarah, leluhur Orang Rimba berasal dari Proto Melayu (Melayu Tua) Yunan. Golongan ini terdesak masuk ke dalam hutan setelah kedatangan Deutro Melayu (Melayu Muda) dengan perdaban yang berbeda. Dari pelacakan sejarah diketahui tentang gelombang eksodus pertama kelompok Proto Melayu masuk ke Indonesia pada tahun 2.000 SM. Itu artinya berabad-abad sebelum Datuk Munyang Segayo, Orang Rimba sudah mendiami Bukit Duabelas.  Ada juga cerita lain yang menyebutkan bahwa leluhur Orang Rimba adalah satu keturunan dengan Puyang Lebar Telapak yang berasal dari Cambai Muara Enim. Mereka hijrah karena terdesak oleh perang pada masa Kesultanan Palembang dan Kolonial Belanda.

Versi lain yakni cerita tentang perang antara Jambi dan Belanda yang berakhir pada tahun 1904. Pada versi ini disebutkan bahwa pasukan Jambi dibantu oleh pasukan Orang Rimba yang dipimpin oleh Raden Perang. Jika merujuk pada cerita yang disampaikan oleh Tumenggung Betaring, sebenarnya Orang Rimba adalah orang yang melarikan diri masuk ke dalam hutan karena tidak ingin menyerah dan terjajah. Ini adalah salah satu cerita yang kuat. Banyaknya versi asal-usul leluhur Orang Rimba ini membuat para peneliti sulit menyimpulkan dengan pasti mana yang paling benar karena setiap kisah mempunyai dasar masing-masing. Yang pasti Orang Rimba sendiri mengakui bahwa leluhur mereka dalam kehidupan sehari-hari hanya mengenakan kancut (sebutan bagi celana terbuat dari kulit kayu terap atau kayu ipo yang ditumbuk sampai lembut) bagi laki-laki untuk menutup salah satu bagian tubuh yang vital.

Masyarakat Adat Orang Rimba tinggal di rumah yang beratap daun serdang dan tidak berdinding. Mereka menamai rumah dengan detano. Sehari-hari Orang Rimba makan buah-buahan yang disediakan oleh hutan dengan nama-nama dengan bahasa mereka sendiri, yaitu rinam, rambai, siabuk, kuduk biawak, dan tampus. Nama buah-buahan lain yang sudah akrab dengan kita, antara lain cempedak, durian, duku, salak, dan banyak lagi. Mereka memiliki kebiasaan meminum air langsung dari sungai yang mereka jaga kejernihannya. Sudah merupakan tradisi bahwa mereka tidak memakan daging ternak, namun hasil buruan, seperti kijang, rusa, dan kancil. Sejak leluhur Orang Rimba hingga saat ini, mereka hidup dengan penghargaan yang amat tinggi terhadap alam.

-Ali Syamsul-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *