Masyarakat Adat Rimba: Sebuah Refleksi (Part I)

“Hidup adalah perjalanan, maka tapakilah; dunia ini luas, maka arungilah.”

Hari itu pada 13 November 2015, seorang kawan menelpon dan bertanya, “Apakah kau punya waktu untuk ikut pelatihan pendokumentasian?”

Saya menjawab, “Iya mudah-mudahan ada waktu untuk itu.”

Namanya Sandi. Ia kemudian memberikan petunjuk untuk keikutsertaan saya dalam kegiatan tersebut. Syaratnya adalah saya harus menyerahkan tulisan tentang komunitas adat.

Saya pun mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh BPAN itu di mana kemudian saya mendapatkan banyak pembelajaran sebagai bekal. Tentu saja sebelum pada akhirnya mendapat kabar bahwa saya bisa bergabung dalam pelatihan bersama kawan-kawan pemuda adat dari berbagai penjuru Nusantara, saya terdorong untuk pulang kampung. Saya kembali ke komunitas saya di Desa Tongko, Kecamatan Baroko. Di sana saya menemui tokoh adat untuk menggali bahan tulisan sebagai bentuk kesungguhan saya untuk ikut dalam pelatihan dan live in di sebuah komunitas adat yang kelak akan ditentukan. Kala itu dengan tekad dan semangat, saya berhasil menyelesaikan empat halaman tulisan dalam waktu relatif singkat selama sekitar dua jam sepulangnya ke rumah.

Pada 16 November 2015 adalah awal dari perjalanan saya menempuh ribuan kilo meter dengan menumpang Kijang Innova dari Enrekang menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sejauh 280 km. Sesampainya di sana, saya langsung check-in agar bisa istrahat sejenak di ruang tunggu.

Melintasi laut dan langit selama dua jam, saya tiba di Sukarno-Hatta. Di bandara saya masih harus melanjutkan perjalanan selama tiga jam untuk sampai ke tujuan akhir yang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan di Bogor, Jawa Barat.

***

Satu minggu lamanya saya di Bogor bersama 15 pemuda-pemudi adat mengikuti pelatihan dengan suguhan beberapa materi sebagai panduan pengetahuan pendokumentasian terhadap masyarakat adat. Dari kelimabelas peserta pelatihan, panitia menugaskan enam orang untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat Adat di tiga tempat. Sedangkan yang lainnya, tetap menulis di komunitas masing-masing.

Yosi dan Aang mengunjungi Masyarakat Adat Punan Dulau di Kalimantan Utara, Mursyid dan Hera ke Masyarakat Adat Nuaulu di Maluku, lalu saya sendiri dan Katharina ke Masyarakat Adat Suku Anak Rimba di Jambi. Sungguh menarik karena dengan pola penugasan seperti itu kami sama sekali belum tahu tentang masyarakat adat yang akan menjadi tempat live in, sehingga pertanyaan-pertanyaan tentang komunitas itu bermunculan dalam pikiran.

Sekjen AMAN, Abdon Nababan yang akrab kami sapa Bang Abdon, berkata pada suatu kesempatan: “Jangan percaya dengan apa yang dikatakan orang, tapi lihat dan rasakanlah sendiri!” Kalimat itu terus terngiang di benak saya.

Mendengar cerita tentang Suku Anak Dalam atau Orang Rimba seperti cerita dari teman saya, Dini, terbayang dalam pikiran saya situasi-situasi sulit yang akan saya alami jika nanti berada dalam komunitas mereka. Agresif, liar, tak bersahabat adalah bayang-bayang yang menghantui pikiran saya selama beberapa hari menjelang keberangkatan. Karena saya tidak begitu saja yakin dengan cerita-cerita negatif mengenai mereka, maka saya rajin mencari informasi dengan cara sering mengajak ngobrol orang-orang yang kemungkinan tahu mengenai Orang Rimba.

Saya bertanya lagi. Masa iya ada orang seperti itu? Agresif, liar, tak bersahabat.

Dalam usaha awal saya untuk mengetahui mereka, saya tidak mendapatkan informasi yang memuaskan. Akhirnya dengan cerita-cerita awal yang saya dapat baca sekilas bercampur dengan keingintahuan yang begitu besar, justru memunculkan semangat baru untuk melihat dan merasakan langsung seperti apa dan bagaimana rasanya berinteraksi dengan mereka.

Tanggal 25 November 2015, kami berangkat ke komunitas yang akan menjadi tempat tinggal sementara saya dan kawan lain selama beberapa waktu. Dari Rumah AMAN di Tebet, Jakarta Selatan, saya bersama Katharina, Hera, dan Mursyid menuju ke Bandara Sukarno-Hatta. Kami berpisah di bandara. Seperti yang sebelumnya saya katakan, masing-masing dari kami akan pecah menuju komunitas adat yang berbeda. Aku dan Kaharina terbang ke Jambi.

Penerbangan ke Jambi hanya memakan waktu satu jam. Setibanya di sana, kami dijemput oleh Dini bersama temannya yang bernama Bagas. Dari Bandara Sultan Thaha, kami langsung menuju ke rumah PW AMAN Jambi. Kami berkenalan dengan Datuk Usman Gumanti. Di rumahnya juga hadir Bang Heru selaku Ketua BPAN Jambi. Persinggahan yang tidak begitu lama di rumah Datuk Usman, saya manfaatkan untuk mendapatkan informasi lagi mengenai Suku Anak Rimba. Datuk banyak menyebut nama-nama Orang Rimba yang menjadi karibnya. Dari cerita itu, saya berkesimpulan bahwa Orang Rimba bisa menjalin keakraban dengan orang luar.

Berarti apa yang diceritakan teman saya tentang mereka tidak selalu benar. Rasa cemas saya sedikit terobati.

Pagi yang cerah tiba di tanggal 26 November 2015. Bersama dengan Ketua BPAN Jambi dan Dini, kami menuju ke Pau di Kabupaten Sarolangun menggunakan mobil sewaan. Kami sempat beriringan dengan Orang Rimba yang menggunakan kendaraan roda dua di perjalanan. Saya lihat mereka memanggul senjata dengan baju kumal tanpa alas kaki. Mereka singgah dekat sebuah pom bensin. Saya melihat melalui jendela mobil. Mereka tampak sedang berkomunikasi menggunakan telepon seluler. Teman saya kemudian mengatakan kalau mereka sedang berkomunikasi untuk menunggu kami.

Pikiran buruk pun kembali muncul. Saya berpikir jangan-jangan benar apa yang Dini ceritakan. Kata Dini, penyambutan mereka dengan cara menembak atau membacok. Dalam hati aku berkata matilah aku jika begini. Namun tetap saja akal rasional saya mengatakan masa iya, sih, ada manusia segila itu.

Jam 12 siang kami sampai di Pau, tapi tidak langsung ke lokasi tempat Suku Anak Rimba. Kami beristirahat sejenak di rumah Dini karena dia menjanjikan akan menyuguhkan makanan khas Jambi: tempoyak. Rasanya aneh. Tempoyak dibuat dari durian yang diasamkan dan dicampur dengan daging ikan, biasanya patin.

Selesai makan, Bang Heru mengajak kami silaturahmi ke kuburan leluhurnya. Bentuk kuburnya panjang. Katanya, makam itu punya sejarah menarik dan tadinya akan menjadi bagian dari tulisan Dini. Tetapi di musim batu akik, nisannya malah hilang, sehingga Dini kebingungan untuk menulis dokumentasi mengenai kuburan itu.

Jam 3 sore kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Ujung Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Nangkus, Ketua PD AMAN Sarolangun, mengarahkan kami agar berkomunikasi dengan orang yang diminta untuk menjemput kami di simpang Pau di mana kami melanjutkan perjalanan dengan ojek ke Air Hitam selama dua jam. Sesampainya di lokasi kami sudah ditunggu oleh Jenang di depan kantor Dinas Kehutanan. Menurut beliau, setiap orang yang ingin masuk ke wilayah pengembaraan Suku Anak Rimba—sekarang menjadi Taman Nasional Bukit Duabelas—harus minta izin kepada pihak Dinas Kehutanan. Sebelumnya, Nangkus bilang tidak perlu minta izin. Namun, Jenang khawatir: “Takutnya kalian dicegat, jadi aku menunggu di situ.”

Untuk beberapa saat kami bincang di depan kantor Dinas kehutanan. Jenang kemudian meminta kepada anak muda yang menjemput kami supaya ke aula pertemuan. Dalam pikiran saya, aula pertemuan adalah sebuah bangunan gedung sebagaimana layaknya aula pada umumnya. Namun ceritanya sangat berbeda jika itu adalah aula milik Orang Rimba yang beratap dan tidak berdinding. Lantainya pun penuh dengan lumpur yang telah mengering dengan debu dan dedaunan yang juga kering. Lokasinya terpisah dari rumah permukiman yang dibangun oleh Dinas Sosial untuk Orang Rimba.

Jenang memberitahu: “Kalian istirahat dan tidur dulu di sini karena malam ini tidak bisa masuk hutan.”

Saya sungguh kaget dan ingin menangis. Tikar tidak ada. Lantai begitu kotor dan gelap gulita karena tidak ada aliran listrik. Nyamuk pun banyak. Kembali saya berpikir kalau di tempat ini kita harus istirahat dan tidur dengan kondisi yang begitu buruk, lalu bagaimana nantinya jika sudah berada dalam hutan. Untunglah anak muda yang mengantar kami mencarikan tikar pinjaman untuk dijadikan alas tidur malam itu. Saya mempunyai suatu kesan pertama yang berbeda dalam lokasi Orang Rimba.

Hari Jumat tanggal 27 November 2015, tepatnya jam setengah dua malam, saya bersama Katharina dan Tumenggung Betaring masuk Hutan. Satu jam lebih kami berjalan kaki menyusuri hutan hingga tiba di tempat kelompok Tumenggung membuat rumah untuk tempat tinggal sementara. Mereka menyebut rumah dengan detano. Ada dua rumah  di tempat itu. Kedatangan kami menjadi bagian dari kelompok mereka, sehingga rumah bertambah menjadi tiga. Dua hari setelah itu, bertambah lagi menjadi empat karena anak laki-laki Tumenggung juga ada.

***

Empat hari saya jalani hidup dalam hutan bersama Tumenggung. Setiap malam saya manfaatkan waktu untuk diskusi dengannya mengenai kehidupan mereka, tentang sejarah asal-usul, tata kelola wilayah, aturan hidup, perekonomian, serta berbagai ritual. Siangnya kami jalan menyusuri hutan dan berjumpa dengan kelompok lain sambil bercerita tentang bagaimana mereka menjalin hubungan tak terpisahkan dengan hutan  yang menjadi bagian dari hidup dan kehidupan mereka. Hutan yang penuh dengan kekayaan flora dan fauna dari Bukit Duabelas. Kami biasa menempuh jarak 10 km.

Dengan berjalan menyusuri hutan, saya menyaksikan sendiri aktivitas kehidupan Orang Rimba yang berburu, meramu, dan mengumpulkan hasil hutan. Mereka meletakkan hasil pekerjaan mereka itu di pinggir jalan begitu saja. Tidak ada yang hilang atau rusak. Ini menegaskan bagaimana mereka memegang teguh nilai-nilai adat dan menerapkannya dalam kehidupan untuk menjaga interaksi sosial tetap kuat. Aturan adat yang menjunjung tinggi nilai moral, seperti kejujuran dan kepercayaan, yang telah menjadi panduan kehidupan mereka sehari hari.

Saya bertemu mereka dan kami saling melempar senyum ketika berpapasan. Seketika prasangka yang sempat mengendap dalam benak saya tentang mereka yang agresif, liar, dan tidak bersahabat, gugur dan berganti sebaliknya. Bang Abdon benar. Cerita orang (tentang masyarakat adat) tidak bisa dipercaya sebagai sebuah kebenaran sebelum melihat dan merasakan sendiri.

Manusia tidak akan mengerti arti kenyamanan jika tidak pernah merasakan kesusahan. Dengan mencicipi kehidupan rimba, afirmasi dari kalimat yang sempat dilontarkan Bang Abdon itu semakin terasa dan punya makna. Saya menyadari kedewasaan ditempa bukan karena bebasnya kita dari persoalan hidup, tetapi dari banyaknya persoalan yang kita hadapi. Kehidupan yang saya nikmati sesaat di alam bebas Hutan Bukit Duabelas sudah pasti berbeda. Ketika saya berada dalam pergaulan masyarakat umum yang relatif modern dan mapan dengan segala hal yang gemerlap, kemudian ada yang berubah saat saya merasakan kehidupan yang berbeda dengan tidur di hutan. Tidur bernaung tenda tanpa dinding yang menahan dinginnya angin malam. Rajin mendonorkan darah untuk nyamuk. Tak lupa kenikmatan mi instan dengan nasi.

Pada perjalanan ini saya menjalin persahabatan dengan sesama manusia dan alam. Saya mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diberikan untuk belajar dan memperkaya makna kehidupan. Sebuah refleksi yang hadir tentang kehidupan di dalam rimba.

***

-Ali Syamsul-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *